Harusnya
saya menulis ini sejak puluhan minggu yang lalu, saat awal saya memulai
kehidupan di dunia blog.
Semoga tak ada kata terlambat. Semoga. Ya, semoga saja.
Saya
hendak bercerita mengenai hari ini. Hari dimana saya seraya mencuri-curi waktu
berada di kubikel kantor yang sedari tahun lalu tak ubah sedikit pun. Saya
takut tak bisa menulis saat saya pulang kerumah. Ya, kau tau kan, malas selalu
menerpa saat kita berada di zona nyaman. Tapi saya bukan ingin menceritakan
bagaimana kantor saya yang meski membosankan tampak semakin menyenangkan, juga
rumah terutama kamar saya yang meski kacau balau tetap saja menyamankan.
Saya
ingin berkisah tentang hari ini. Hari ketika hal baik terjadi. Dini hari tadi,
sekitar pukul lima, mungkin bagi sebagian orang itu bukan dini. Saya harus menerima kenyataan teman satu rumah saya, Kat mendapati dirinya tengah hamil. Senang
bukan kepalang ia. Sudah satu tahun lamanya ia menanti. Saya dan teman serumah
lainnya ikut senang.
Tepat
pada hari ini pula, saya berhasil melewatkan satu kesempatan lagi pergi ke
negri seberang untuk sekolah. Saya bersyukur, karena saya yakin belum siap
untuk pergi. Saya tetap percaya, Tuhan akan mengganti setiap peluh yang
terjatuh dengan sekolah di negri yang lebih baik.
Pada
hari ini pula, saya menemukan kembali password
blog saya yang telah lama hilang. Ah, akhirnya. Menemukan kembali blog, bukan berati saya akan mengunggah
sejumlah tulisan dalam hitungan detik. Menemukan seven days, seperti menemukan semangat menulis kembali. Oke, anggap
saya berlebihan.
Hari
ini, saat saya telah selesai menulis, dan hendak mengunggahnya. Listrik di
kantor padam. Saya yang sedang belajar ilmu membaca pertanda, langsung menduga,
Perusahaan Listrik Negara tengah menghukum saya yang menggunakan jam kerja
untuk bersenang-senang. Tak apa. Saya senang dihukum seperti ini. Saya jadi
punya alasan untuk bersosialisasi bertukar kabar dengan rekan kerja.
Sepulang kerja, tak langsung pulang ke rumah. Saya meyempatkan diri mampir ke kolam renang. Tentu saja untuk berenang. Menjaga kesehatan itu penting. Rupa-rupanya saya terlalu banyak makan sebelumnya. Tak sampai satu jam berkecipak dalam air, isi perut saya berontak ingin keluar. Saya hanya berkata, "Ah." Hari sudah menjelang malam, saya tak ingin mengakhirinya dengan keluh kesah. Saya pun pulang.
Tulisan
ini adalah tulisan tak berinti. Tak memiliki pikiran utama, begitu kata Guru
Bahasa Indonesia saya. Mungkin sebagian ada yang menyesal ketika membacanya.
Tak apa. Toh, saya memang tidak sedang menggurui atau menghibur
kalian. Saya hanya ingin menuangkan yang saya alami hari ini. Saya ingin
menikmati hari-hari yang saya miliki, kemudian mati. Saya berupaya menikmati
hari dengan baik, meski hari terkadang datang dengan begitu buruk. Nikmatilah hari
ini.[]