Rabu, 23 Oktober 2013

Kakek Muridan

Dia adalah satu-satunya kakek yang kami –saya dan dua orang adik saya- punya. Muridan namanya. Kami dan cucu-cucunya yang lain memanggilnya Nang. Konon, Nang adalah panggilan untuk anak laki-laki. Tapi kami tidak peduli. Kami suka memanggilnya begitu dan toh ia tidak keberatan. Nang adalah ayah dari ibuku. Sementara ayah dari ayahku sudah lama meninggal sejak ayahku masih kecil. Maka, Nang menjadi satu-satunya kakek bagi kami.
Dalam keseharian, Nang adalah orang yang sangat sederhana. Aku menganggapnya begitu, karena seingatku ia bahkan tidak punya baju lebih dari tiga buah. Satu baju batik lengan panjang dengan motif lawas dan aroma kapur barus, ia menggunakannya hanya pada saat-saat tertentu, lebaran misalnya, atau jika ada hajatan atau layatan. Satu kaos yang telah tipis dimakan usia, tampaknya dulu berwana biru muda tapi kini berganti rupa menjadi kekuningan dengan lubang di sana-sini. Ini adalah baju kebangsaan Nang. Dan satu lagi adalah kaos berwarna hitam yang terlihat jauh lebih baik, setidaknya warnanya belum pudar dan belum berlubang.

Selasa, 22 Oktober 2013

Aku dan Serigala Betina

Aku merindukan serigala betinaku yang liar.
Sebenarnya serigala itu bukan milikku. Bukan milik siapapun. Karena ia terlalu liar untuk dimiliki. Aku masih bisa mengingat dengan jelas seringainya ketika ia mengatakan, “serigala tidak lebih dari seokor anjing jika ia dipelihara.” Dan kemudian ia bertutur tentang siberian husky.
Konon, menurutnya, mulanya si husky adalah serigala liar yang hidup di utara. Tapi kemudian manusia memeliharanya. Bukan karena ia bisa menjadi teman atau menjadi penarik kereta seperti dalam film. Karena ia adalah serigala yang cantik dan karena manusia haus akan penaklukan. Lalu katanya, “sayang, aku bukan husky yang takluk pada manusia.”
Sayangnya, ia selalu benar. Kupikir akulah yang menaklukkan ia. Rupanya akulah yang takluk pada si serigala betina. Bahkan hingga tahun-tahun berselang, aku masih merindunya. Meski, jika saja aku memiliki satu kesempatan bertemu dengannya, ia tetap akan memperkudaku dan membuatku melenguh mengakui ketangguhannya.

Senin, 29 Juli 2013

Semalam, Aku Membunuh Sang Raja



Tersebutlah kisah sebuah negari yang dipimpin seorang raja yang tidak memiliki jantung hati. Kisah ini dimulai pada suatu malam di sebuah penjara nan kelam. Dimana keputusasaan menjadi eksekutor. Banyak dari mereka yang menyerah pada kelam. Kemudian mengakhiri hidup.
Penjara tersebut berisi puluhan bahkan ratusan cerdik cendikia juga para penyair dan seniman. Seluruh orang pandai pada negri itu pernah dikumpulkan pada satu waktu oleh sang raja yang berkuasa. Alasannya sederhana, sang raja tak ingin memiliki rakyat yang lebih pandai dari dirinya. Melalui tipu muslihat dan kesetiaan seorang jelata, mereka berkumpul di alun-alun. Tanpa mengetahui apapun, mereka dijebloskan dalam penjara putus asa. Sang raja bersabda, ‘Itulah hukuman bagi mereka yang pandai.’
Raja memerlukan rakyat yang bodoh dan setia. Itu saja.

Rabu, 05 Desember 2012

Saya, Hatta, dan Nicholas Saputra

Pemandangan Gunung Api Banda dari penginapan yang saya tempati.


Banda. Saya hanya pernah mendengar namanya pada pelajaran sejarah bertahun silam, saat saya masih duduk di bangku sekolah dasar. Muhammad Hatta, si Bapak Koperasi Indonesia beserta rekannya Sutan Syahrir dibuang ke Banda. Itulah sepenggal kisah tentang Banda yang terekam. Kemudian ingatan itu muncul lagi ketika Des Alwi, sejarawan Banda meninggal. Hanya dua peristiwa itu yang saya ketahui tentang Banda. Oh ya, saya juga pernah mendengar Nicholas Saputra, pemain film ‘Ada Apa Dengan Cinta’ juga mengagumi keindahan Banda.
Siapa nyana, akhirnya saya menjejakkan sepasang kaki ini di Tanah Banda. Berangkat dari Port of Ambon atau kini Pelabuhan Yos Sudarso, Ambon, dengan menumpang Kapal Ciremai. 
Suara stoom kapal membelah subuh di Kota Ambon. Jam lima pagi hari, kapal beranjak meninggalkan kota. Delapan jam lamanya saya mengarungi luasnya Laut Banda. Lama perjalanan menjadi tak berarti, saat saya membayangkan sosok Banda. Lagipula laut dan langit biru yang seolah bersatu di cakrawala pun selalu menemani. Sungguh, rasa bosan pun enggan hinggap.

Senin, 03 Desember 2012

Petualangan Pombo

Pombo, pesona Maluku Manise

Manise, manise, su telalu manise…
Sama santan dan gula, su telalu manise….
(Manisnya, manisnya, sangat manisnya…
Sama seperti santan dan gula, sangat manis….)

Itulah sebait lagu daerah Maluku yang berjudul Kole-Kole. Mungkin hanya penggalan lagu itu yang mampu menerjemahkan keindahan Maluku. Mungkin pula nama Pulau Pombo tak seterkenal nama Kepulauan Maluku, tapi keelokan Pulau Pombo dapat mewakili manisnya Maluku.

Kamis, 29 November 2012

Anggrek Merah Darah Babi





 Si Kecil Ungu ini adalah anggrek pertama saya. Nama ilmiahnya, Dendrobium anousmum. Ada pula yang menyebutnya Anggrek Mata Sapi. Agak aneh memang, karena menurut saya, anggrek ini sama sekali tidak terlihat seperti mata sapi. Dalam kepala saya, ketika disebutkan mata sapi yang terbesit adalah sepiring telur ceplok dengan bagian kuning tepat sempurna di tengahnya.

Senin, 19 November 2012

Hujan dalam Kaleng




Kau bilang, panas di kotamu begitu menyengat. Padahal mendung menggayut di langit kotaku. Aku merentang jarak antara kotamu dan kotaku. Tak jauh rupanya. Tak lebih dari satu jengkal. Tapi mengapa cuaca begitu berbeda.
Akan ku kirim hujan untukmu, sayangku.
Begitu janjiku padamu.
Aku segera pulang dari kantor meski mendung membayang. Ah, tepat sekali. Sebentar lagi hujan. Dan aku bisa memenuhi janjiku padamu. Saat aku tiba di rumah, hujan belum lagi turun. Aku melesat ke dapur. Aku harus menemukan sesuatu yang mampu menampung hujan. Juga mendung yang berat. Serta kilat yang berkeriap.

Kereta Senja



Ting-Tong-Ting-Tong. Bel telah berdentang. Para penjaga hilir mudik. Orang-orang berdiri. Kulihat arloji di tanganku. Bukan ini, gunamku. Bergeming aku tak beranjak. Kukatupkan kedua tanganku. Sedikit berkeringat. Ya, aku memang sedikit gugup.
Ia datang. Dari barat. Berderit-derit. Ada yang bahagia, ada pula yang tidak. Mereka yang bahagia adalah yang telah menunggu kedatangannya. Dan yang tidak, memang tidak menginginkan ia datang. Aku? Aku bukan keduanya. Tentu saja aku bahagia. Aku bisa tau bagaimana perasaan mereka yang bahagia. Tapi, Ia datang bukan untukku. Jadi, aku punya alasan untuk tak bahagia.

Rabu, 09 Mei 2012

Purnama Untuk eL


Kepada eL sayangku,

eL, akan ku kirimkan sebuah purnama merah jambu untukmu. Tak hanya sepotong, tapi utuh tigaratus enampuluh derajat. Tak tercela meski secuil. Akan ku ambil purnama yang paling sempurna untukmu. Purnama pada malam-malam nan pekat. Tanggal lima belas tepat.
Akan ku bungkus dalam amplop putih bersih. Kau akan mampu melihat pendarnya meski terbungkus. Akan ku rekatkan pula sebuah perangko. Perangko yang tertempel miring. Sehingga Pak Pos yang mengantar akan tahu, bahwa itu adalah sepucuk surat cinta.
eL, sayangku. Setelah bermalam-malam ku lalui dengan menghitung hari. Akhirnya kujumpai malam ini. Betapa sempurnanya purnama malam ini. Ia begitu bundar. Dan berpendar. Warnanya begitu sempurna. Kuning, emas, ah, ia begitu merah jambu, eL. Ia terlihat memukau di tengah selimut kegelapan malam. Malam menjadi begitu benderang. Bahkan tanpa lampu. Dan sayangku, jika kau ada di sini, kau akan melihat anak-anak bermain dan bernyanyi di luar. Tanpa takut akan gelap. Dengarlah mereka bernyanyi.
“Yo, prokonco dolanan ning njobo,
Padang bulan, bulan ne koyo rino”

Jumat, 18 November 2011

Kalah atau Menang

Saya memang tidak nonton pertandingan memperebutkan Juara Grup A di Sea Games semalam. Tepatnya saya hanya menonton setengah permainan saja. Kecewa dengan Garuda Muda, tentu bukan alasan saya tak melanjutkan menonton. Semalam sakit perut akut mendera. Lebih baik tidur agar esok pagi bisa bekerja dengan baik.

Tak sampai keesokan harinya, saya telah mendapat banyak sekali analisis kekalahan Indonesia. Oh, rupa-rupanya di pertandingan semalam, Garuda Muda harus menerima kekalahan. Bagi saya, tak apa, bukankah mereka masih muda. Meski menjadi muda bukan alasan untuk kalah. Entah bagi delapan puluh lima ribu penonton di Gelora Bung Karno? Adakah mereka kecewa?

Rabu, 16 November 2011

Saat Mimpi Burukmu Adalah Nyata



Sebab dalam diri setiap orang dewasa masih tersimpan jiwa kanak-kanaknya, dan dalam diri setiap anak bersemayam jiwa yang kelak akan menjadi dewasa.

Kalimat itu tertulis di halamannya yang paling depan. Setelah kau membuka sampul buku itu tentunya. Aku membelinya, jujur saja, karena aku tertarik pada sampulnya yang berwarna entah biru, entah ungu. Buku itu bergambar centang perenang sulur-sulur tanaman rambat yang mungkin memang tidak ada dalam dunia kita –kau tahu, kan, ada banyak dunia, di sisi dunia yang kita tempati ini-. Mungkin juga sulur tanaman itu hanya hidup dalam imaji si penulis. Dalam gambar sulur tanaman rambat yang bisa saja beracun itu tergantung berbagai benda, ada kunci-kunci yang jumlahnya sangat banyak, juga beberapa pedang, bintang, dan juga hati. Lalu berdiri pada salah satu julainya yang penuh duri, seorang lelaki bungkuk dengan pedang sebagai tongkatnya. Ia tampak tidak baik. Jika kau memiliki buku ini, perhatikanlah sorot matanya. Ia benar-benar terlihat licik, bukan? Di sulur lainnya, di sisi bawah buku, kau akan melihat seorang anak lelaki yang tengah membaca, sambil tiduran. Lelaki bungkuk dan anak lelaki itu tentu saja hanya terlihat sebagai siluet putih. Kontras dengan latar yang entah biru, entah ungu, juga julai tanaman rambat penuh duri yang berwarna coklat nyaris emas.
Sampul 'The Book of The Lost Thing'

Selasa, 15 Desember 2009

Hari Ini


Harusnya saya menulis ini sejak puluhan minggu yang lalu, saat awal saya memulai kehidupan di dunia blog. Semoga tak ada kata terlambat. Semoga. Ya, semoga saja. 

Saya hendak bercerita mengenai hari ini. Hari dimana saya seraya mencuri-curi waktu berada di kubikel kantor yang sedari tahun lalu tak ubah sedikit pun. Saya takut tak bisa menulis saat saya pulang kerumah. Ya, kau tau kan, malas selalu menerpa saat kita berada di zona nyaman. Tapi saya bukan ingin menceritakan bagaimana kantor saya yang meski membosankan tampak semakin menyenangkan, juga rumah terutama kamar saya yang meski kacau balau tetap saja menyamankan. 

Saya ingin berkisah tentang hari ini. Hari ketika hal baik terjadi. Dini hari tadi, sekitar pukul lima, mungkin bagi sebagian orang itu bukan dini. Saya harus menerima kenyataan teman satu rumah saya, Kat mendapati dirinya tengah hamil. Senang bukan kepalang ia. Sudah satu tahun lamanya ia menanti. Saya dan teman serumah lainnya ikut senang.

Tepat pada hari ini pula, saya berhasil melewatkan satu kesempatan lagi pergi ke negri seberang untuk sekolah. Saya bersyukur, karena saya yakin belum siap untuk pergi. Saya tetap percaya, Tuhan akan mengganti setiap peluh yang terjatuh dengan sekolah di negri yang lebih baik.

Pada hari ini pula, saya menemukan kembali password blog saya yang telah lama hilang. Ah, akhirnya. Menemukan kembali blog, bukan berati saya akan mengunggah sejumlah tulisan dalam hitungan detik. Menemukan seven days, seperti menemukan semangat menulis kembali. Oke, anggap saya berlebihan.

Hari ini, saat saya telah selesai menulis, dan hendak mengunggahnya. Listrik di kantor padam. Saya yang sedang belajar ilmu membaca pertanda, langsung menduga, Perusahaan Listrik Negara tengah menghukum saya yang menggunakan jam kerja untuk bersenang-senang. Tak apa. Saya senang dihukum seperti ini. Saya jadi punya alasan untuk bersosialisasi bertukar kabar dengan rekan kerja.

Sepulang kerja, tak langsung pulang ke rumah. Saya meyempatkan diri mampir ke kolam renang. Tentu saja untuk berenang. Menjaga kesehatan itu penting. Rupa-rupanya saya terlalu banyak makan sebelumnya. Tak sampai satu jam berkecipak dalam air, isi perut saya berontak ingin keluar. Saya hanya berkata, "Ah." Hari sudah menjelang malam, saya tak ingin mengakhirinya dengan keluh kesah. Saya pun pulang.

Tulisan ini adalah tulisan tak berinti. Tak memiliki pikiran utama, begitu kata Guru Bahasa Indonesia saya. Mungkin sebagian ada yang menyesal ketika membacanya. Tak apa. Toh, saya memang tidak sedang menggurui atau menghibur kalian. Saya hanya ingin menuangkan yang saya alami hari ini. Saya ingin menikmati hari-hari yang saya miliki, kemudian mati. Saya berupaya menikmati hari dengan baik, meski hari terkadang datang dengan begitu buruk. Nikmatilah hari ini.[]