Dia adalah satu-satunya kakek yang kami –saya dan dua
orang adik saya- punya. Muridan namanya. Kami dan cucu-cucunya yang lain
memanggilnya Nang. Konon, Nang adalah panggilan untuk anak laki-laki. Tapi kami
tidak peduli. Kami suka memanggilnya begitu dan toh ia tidak keberatan. Nang
adalah ayah dari ibuku. Sementara ayah dari ayahku sudah lama meninggal sejak
ayahku masih kecil. Maka, Nang menjadi satu-satunya kakek bagi kami.
Dalam keseharian, Nang adalah orang yang sangat
sederhana. Aku menganggapnya begitu, karena seingatku ia bahkan tidak punya
baju lebih dari tiga buah. Satu baju batik lengan panjang dengan motif lawas
dan aroma kapur barus, ia menggunakannya hanya pada saat-saat tertentu, lebaran
misalnya, atau jika ada hajatan atau layatan. Satu kaos yang telah tipis
dimakan usia, tampaknya dulu berwana biru muda tapi kini berganti rupa menjadi
kekuningan dengan lubang di sana-sini. Ini adalah baju kebangsaan Nang. Dan
satu lagi adalah kaos berwarna hitam yang terlihat jauh lebih baik, setidaknya
warnanya belum pudar dan belum berlubang.