Kepada eL
sayangku,
eL, akan ku kirimkan sebuah purnama merah jambu untukmu. Tak hanya
sepotong, tapi utuh tigaratus enampuluh derajat. Tak tercela meski secuil. Akan
ku ambil purnama yang paling sempurna untukmu. Purnama pada malam-malam nan
pekat. Tanggal lima belas tepat.
Akan ku bungkus dalam amplop putih bersih. Kau akan mampu melihat
pendarnya meski terbungkus. Akan ku rekatkan pula sebuah perangko. Perangko
yang tertempel miring. Sehingga Pak Pos yang mengantar akan tahu, bahwa itu
adalah sepucuk surat cinta.
eL, sayangku. Setelah bermalam-malam ku lalui dengan menghitung hari.
Akhirnya kujumpai malam ini. Betapa sempurnanya purnama malam ini. Ia begitu
bundar. Dan berpendar. Warnanya begitu sempurna. Kuning, emas, ah, ia begitu
merah jambu, eL. Ia terlihat memukau di tengah selimut kegelapan malam. Malam
menjadi begitu benderang. Bahkan tanpa lampu. Dan sayangku, jika kau ada di
sini, kau akan melihat anak-anak bermain dan bernyanyi di luar. Tanpa takut
akan gelap. Dengarlah mereka bernyanyi.
“Yo, prokonco dolanan
ning njobo,
Padang bulan, bulan ne
koyo rino”