Kepada eL
sayangku,
eL, akan ku kirimkan sebuah purnama merah jambu untukmu. Tak hanya
sepotong, tapi utuh tigaratus enampuluh derajat. Tak tercela meski secuil. Akan
ku ambil purnama yang paling sempurna untukmu. Purnama pada malam-malam nan
pekat. Tanggal lima belas tepat.
Akan ku bungkus dalam amplop putih bersih. Kau akan mampu melihat
pendarnya meski terbungkus. Akan ku rekatkan pula sebuah perangko. Perangko
yang tertempel miring. Sehingga Pak Pos yang mengantar akan tahu, bahwa itu
adalah sepucuk surat cinta.
eL, sayangku. Setelah bermalam-malam ku lalui dengan menghitung hari.
Akhirnya kujumpai malam ini. Betapa sempurnanya purnama malam ini. Ia begitu
bundar. Dan berpendar. Warnanya begitu sempurna. Kuning, emas, ah, ia begitu
merah jambu, eL. Ia terlihat memukau di tengah selimut kegelapan malam. Malam
menjadi begitu benderang. Bahkan tanpa lampu. Dan sayangku, jika kau ada di
sini, kau akan melihat anak-anak bermain dan bernyanyi di luar. Tanpa takut
akan gelap. Dengarlah mereka bernyanyi.
“Yo, prokonco dolanan
ning njobo,
Padang bulan, bulan ne
koyo rino”
Masih lekat dalam ingatan, aku yang begitu kecil dan polos. Tidak
seperti malam-malam biasanya, malam purnama adalah spesial. Ia adalah malam
khusus bagi anak-anak. Ya, purnama adalah keceriaan anak-anak. Saat purnama
datang, aku dibolehkan bermain di luar. Karena sungguh, saat bulan penuh, malam
menjadi benderang meski tanpa gemintang. Aku beserta anak-anak kampung lainnya
akan berbondong keluar rumah. Memandang sang bulan dan kemudian bernyanyi
untuknya. Kami berlari memutari kampung seraya memperebutkan sang bulan.
Masing-masing dari kami merasa bulan mengikuti kami yang berlarian. Tanpa
teman-temanku tahu, sesungguhnya purnama adalah milikku. Sejak jauh-jauh hari
aku telah merencanakan utuk memetik bulan.
Dan eL, malam ini akan kupetik purnama untukmu.
Aku ingin membungkus purnama malam ini. Karena bisa jadi ia adalah
purnama paling cantik yang pernah ada. Tak pernah ada purnama yang sama, eL.
Konon, malam ini adalah malam saat purnama paling dekat. Jaraknya tak jauh dari
khatulistiwa. Peristiwa ini hanya terjadi sekian tahun sekali. Begitu kudengar
para ahli menjelaskan. Tapi bagiku, tak
seperti itu. Malam ini adalah jawaban dari segala doa yang kudendangkan pada
malam-malam bisu. Tuhan telah menyiapkan malam ini, agar aku dapat meraih purnama.
Purnama kali ini memang terasa berbeda. Ia begitu besar dan dekat. Seolah aku
mampu menggapainya hanya dengan menjulurkan lengan.
Jauh-jauh hari aku melakukan persiapan. Kupesan tiket pesawat menuju
Pontianak. Kaupun pasti tahu, eL, Kota Pontianak dilewati garis bujur nol
derajat. Maka aku ada di sana. Dua minggu lamanya aku di kota ini. Aku merajut
tali temali, aku merangkai tangga, dan telah kusiapkan sebuah amplop juga
perangko. Kutulis di bagian depan amplop, ‘purnama untuk eL’. Kusertakan juga
alamatmu. Semoga kau belum pindah.
Malam pun tiba. Aku ingin kau melihat apa yang kulihat. Ia lebih besar
dari uang logam seratus rupiah bergambar gunungan wayang. Lihatlah, halo yang
menyelimutinya. Begitu gemerlap. Lebih nyala dari lampu merkuri manapun. Dan ia
merah jambu. Betapa cantiknya ia. Ah, ku harap kau akan tahu betapa tinggi
cintaku padamu. Bahkan lebih tinggi dari purnama.
Semesta raya pun setuju menjadikan ia ratu malam ini. Tak ada bintang
yang muncul. Langit hitam pekat. Menatap malam ini mengingatkanku saat menatap
matamu yang berbinar. Yang memunculkan rasa-rasa aneh dalam diriku. Seakan
membuatku tenggelam di kedalaman binar matamu. Ah, rupanya aku rindu padamu.
Tenang, eL. Akan kukirimkan ia padamu. Utuh. Bundar. Dan berbinar. Ia
muncul dari balik pohon waru dengan malu-malu. Seperti perawan desa ia bersemu
merah jambu. Kusandarkan tangga pada pohon waru. Kupanjat. Segera kupasang tali
temali di tubuhku. Ku ikatkan pada batang terkokoh. Sesungguhya aku tak takut
jatuh. Aku hanya takut mati sebelum sempat mengirimkan punama padamu, eL.
Tibalah aku pada pucuk pohon waru. Kudengar daunnya gemerisik tertiup
angin. Dan bunganya yang kuning-orens berjatuhan. Betapa syahdu malam ini. Kau
tahu eL, saat berada di pucuk waru, baru kusadari, ternyata daun waru berbentuk
hati. Adakah ia perlambang cintaku padamu.
Kuulurkan tanganku untuk menggapai purnama. Jika kau berpikir, purnama
terasa panas, kau salah sayangku. Purnama terasa sejuk dalam genggamannku. Ia
pun tak sebesar yang kau bayangkan. Ukurannya hanya sebesar bola tenis. Hanya
saja, ia memang terasa berat dibanding bola tenis. Sentuhlah ia, eL, maka kau
akan percaya padaku.
Sesaat setelah purnama berada dalam genggamanku, malam menjadi gulita.
Segera kumasukkan dalam saku. Aku tak ingin ada yang mencurinya. Aku bergegas
turun dari pohon berdaun hati. Sempat kutuliskan nama dan alamatmu dalam salah
satu daunnya yang berbentuk hati. Kuharap angin membawanya padamu.
Meski malam telah pekat. Dan angin terperanjat. Aku tidak takut. Ada
purnama yang menerangi. Aku kembali ke dalam kamar penginapanku yang pengap.
Kunyalakan pendingin udara dalam kamar. Mengapa udara menjadi sumuk. Kusentuh
kembali purnama dalam saku. Segera sejuk merayapi tubuhku.
Sayangku eL, akan kukirimkan purnama untukmu esok hari. Pagi-pagi
sekali, akan kudatangi Pos. Akan kuminta paket kilat khusus, agar segera tiba
padamu. Kekasihku eL, aku berharap kau akan senang dengan purnama yang
kukirimkan. Kau akan bisa memajangya di langit-langit kamarmu. Binarnya pasti
menerangi kamarmu. Dan kau akan bisa tetap membaca meski ada pemadaman listrik.
Bukankah kau suka membaca sebelum tidur?
Kulihat kota dari jendela kamar penginapanku yang berpendingin udara.
Kamar ini terasa terang tanpa menyilaukan meski kupadamkan lampu. Malam memang
gulita. Langit memang kelam. Tapi di bawah sana, lampu-lampu benderang. Adakah
yang menyadari purnama telah kucuri?[]
eL for Lullaby, loving you is painfull but
beautifull. I will steal the fullmoon for you, eL.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar