Rabu, 09 Mei 2012

Purnama Untuk eL


Kepada eL sayangku,

eL, akan ku kirimkan sebuah purnama merah jambu untukmu. Tak hanya sepotong, tapi utuh tigaratus enampuluh derajat. Tak tercela meski secuil. Akan ku ambil purnama yang paling sempurna untukmu. Purnama pada malam-malam nan pekat. Tanggal lima belas tepat.
Akan ku bungkus dalam amplop putih bersih. Kau akan mampu melihat pendarnya meski terbungkus. Akan ku rekatkan pula sebuah perangko. Perangko yang tertempel miring. Sehingga Pak Pos yang mengantar akan tahu, bahwa itu adalah sepucuk surat cinta.
eL, sayangku. Setelah bermalam-malam ku lalui dengan menghitung hari. Akhirnya kujumpai malam ini. Betapa sempurnanya purnama malam ini. Ia begitu bundar. Dan berpendar. Warnanya begitu sempurna. Kuning, emas, ah, ia begitu merah jambu, eL. Ia terlihat memukau di tengah selimut kegelapan malam. Malam menjadi begitu benderang. Bahkan tanpa lampu. Dan sayangku, jika kau ada di sini, kau akan melihat anak-anak bermain dan bernyanyi di luar. Tanpa takut akan gelap. Dengarlah mereka bernyanyi.
“Yo, prokonco dolanan ning njobo,
Padang bulan, bulan ne koyo rino”
Ah, itu bukanlah suara anak-anak bermain dan bernyanyi. Di jaman seperti ini, mungkin tak ada lagi anak-anak yang bermain dan bernyanyi seperti itu. Kecuali anak itu adalah aku. Purnama merah jambu, eL. Selalu mengingatkanku pada masa kecilku. Pada masa-masa jauh sebelum saat ini. Duapuluhtahun yang lalu mungkin, atau tigapuluh. Ah, bahkan aku lupa kapan masa kecil itu terjadi. Bagiku, masa kecilku selalu senantiasa terasa dekat. Seperti baru kemarin saja aku menyanyikan lagu itu. 
Masih lekat dalam ingatan, aku yang begitu kecil dan polos. Tidak seperti malam-malam biasanya, malam purnama adalah spesial. Ia adalah malam khusus bagi anak-anak. Ya, purnama adalah keceriaan anak-anak. Saat purnama datang, aku dibolehkan bermain di luar. Karena sungguh, saat bulan penuh, malam menjadi benderang meski tanpa gemintang. Aku beserta anak-anak kampung lainnya akan berbondong keluar rumah. Memandang sang bulan dan kemudian bernyanyi untuknya. Kami berlari memutari kampung seraya memperebutkan sang bulan. Masing-masing dari kami merasa bulan mengikuti kami yang berlarian. Tanpa teman-temanku tahu, sesungguhnya purnama adalah milikku. Sejak jauh-jauh hari aku telah merencanakan utuk memetik bulan.
Dan eL, malam ini akan kupetik purnama untukmu.
Aku ingin membungkus purnama malam ini. Karena bisa jadi ia adalah purnama paling cantik yang pernah ada. Tak pernah ada purnama yang sama, eL. Konon, malam ini adalah malam saat purnama paling dekat. Jaraknya tak jauh dari khatulistiwa. Peristiwa ini hanya terjadi sekian tahun sekali. Begitu kudengar para ahli menjelaskan.  Tapi bagiku, tak seperti itu. Malam ini adalah jawaban dari segala doa yang kudendangkan pada malam-malam bisu. Tuhan telah menyiapkan malam ini, agar aku dapat meraih purnama. Purnama kali ini memang terasa berbeda. Ia begitu besar dan dekat. Seolah aku mampu menggapainya hanya dengan menjulurkan lengan.
Jauh-jauh hari aku melakukan persiapan. Kupesan tiket pesawat menuju Pontianak. Kaupun pasti tahu, eL, Kota Pontianak dilewati garis bujur nol derajat. Maka aku ada di sana. Dua minggu lamanya aku di kota ini. Aku merajut tali temali, aku merangkai tangga, dan telah kusiapkan sebuah amplop juga perangko. Kutulis di bagian depan amplop, ‘purnama untuk eL’. Kusertakan juga alamatmu. Semoga kau belum pindah.
Malam pun tiba. Aku ingin kau melihat apa yang kulihat. Ia lebih besar dari uang logam seratus rupiah bergambar gunungan wayang. Lihatlah, halo yang menyelimutinya. Begitu gemerlap. Lebih nyala dari lampu merkuri manapun. Dan ia merah jambu. Betapa cantiknya ia. Ah, ku harap kau akan tahu betapa tinggi cintaku padamu. Bahkan lebih tinggi dari purnama.
Semesta raya pun setuju menjadikan ia ratu malam ini. Tak ada bintang yang muncul. Langit hitam pekat. Menatap malam ini mengingatkanku saat menatap matamu yang berbinar. Yang memunculkan rasa-rasa aneh dalam diriku. Seakan membuatku tenggelam di kedalaman binar matamu. Ah, rupanya aku rindu padamu.
Tenang, eL. Akan kukirimkan ia padamu. Utuh. Bundar. Dan berbinar. Ia muncul dari balik pohon waru dengan malu-malu. Seperti perawan desa ia bersemu merah jambu. Kusandarkan tangga pada pohon waru. Kupanjat. Segera kupasang tali temali di tubuhku. Ku ikatkan pada batang terkokoh. Sesungguhya aku tak takut jatuh. Aku hanya takut mati sebelum sempat mengirimkan punama padamu, eL.
Tibalah aku pada pucuk pohon waru. Kudengar daunnya gemerisik tertiup angin. Dan bunganya yang kuning-orens berjatuhan. Betapa syahdu malam ini. Kau tahu eL, saat berada di pucuk waru, baru kusadari, ternyata daun waru berbentuk hati. Adakah ia perlambang cintaku padamu.
Kuulurkan tanganku untuk menggapai purnama. Jika kau berpikir, purnama terasa panas, kau salah sayangku. Purnama terasa sejuk dalam genggamannku. Ia pun tak sebesar yang kau bayangkan. Ukurannya hanya sebesar bola tenis. Hanya saja, ia memang terasa berat dibanding bola tenis. Sentuhlah ia, eL, maka kau akan percaya padaku.
Sesaat setelah purnama berada dalam genggamanku, malam menjadi gulita. Segera kumasukkan dalam saku. Aku tak ingin ada yang mencurinya. Aku bergegas turun dari pohon berdaun hati. Sempat kutuliskan nama dan alamatmu dalam salah satu daunnya yang berbentuk hati. Kuharap angin membawanya padamu.
Meski malam telah pekat. Dan angin terperanjat. Aku tidak takut. Ada purnama yang menerangi. Aku kembali ke dalam kamar penginapanku yang pengap. Kunyalakan pendingin udara dalam kamar. Mengapa udara menjadi sumuk. Kusentuh kembali purnama dalam saku. Segera sejuk merayapi tubuhku.
Sayangku eL, akan kukirimkan purnama untukmu esok hari. Pagi-pagi sekali, akan kudatangi Pos. Akan kuminta paket kilat khusus, agar segera tiba padamu. Kekasihku eL, aku berharap kau akan senang dengan purnama yang kukirimkan. Kau akan bisa memajangya di langit-langit kamarmu. Binarnya pasti menerangi kamarmu. Dan kau akan bisa tetap membaca meski ada pemadaman listrik. Bukankah kau suka membaca sebelum tidur?
Kulihat kota dari jendela kamar penginapanku yang berpendingin udara. Kamar ini terasa terang tanpa menyilaukan meski kupadamkan lampu. Malam memang gulita. Langit memang kelam. Tapi di bawah sana, lampu-lampu benderang. Adakah yang menyadari purnama telah kucuri?[]

eL for Lullaby, loving you is painfull but beautifull. I will steal the fullmoon for you, eL.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar