Rabu, 23 Oktober 2013

Kakek Muridan

Dia adalah satu-satunya kakek yang kami –saya dan dua orang adik saya- punya. Muridan namanya. Kami dan cucu-cucunya yang lain memanggilnya Nang. Konon, Nang adalah panggilan untuk anak laki-laki. Tapi kami tidak peduli. Kami suka memanggilnya begitu dan toh ia tidak keberatan. Nang adalah ayah dari ibuku. Sementara ayah dari ayahku sudah lama meninggal sejak ayahku masih kecil. Maka, Nang menjadi satu-satunya kakek bagi kami.
Dalam keseharian, Nang adalah orang yang sangat sederhana. Aku menganggapnya begitu, karena seingatku ia bahkan tidak punya baju lebih dari tiga buah. Satu baju batik lengan panjang dengan motif lawas dan aroma kapur barus, ia menggunakannya hanya pada saat-saat tertentu, lebaran misalnya, atau jika ada hajatan atau layatan. Satu kaos yang telah tipis dimakan usia, tampaknya dulu berwana biru muda tapi kini berganti rupa menjadi kekuningan dengan lubang di sana-sini. Ini adalah baju kebangsaan Nang. Dan satu lagi adalah kaos berwarna hitam yang terlihat jauh lebih baik, setidaknya warnanya belum pudar dan belum berlubang.

Nang tidak suka jika ayah atau ibu membelikannya baju. Ia akan bilang, “aku seh nduwe klambi kok, bajuku masih ada, lebih dari cukup, berikan saja pada orang yang lebih butuh.” Kemudian ia akan menyebut nama, si ini lah atau si anu lah. Ayah juga ibu akhirnya memberikan baju itu kepada orang yang disebut Nang. Setelah puluhan kali kejadian itu berulang, ayah dan ibu akhirnya berhenti membelikan Nang baju baru.
Tapi Nang memiliki banyak celana komprang. Ia senang jika ibu membelikan yang baru. Celana komprang kesukaan kakek adalah yang berwarna hitam. Rasanya semua kakek di kampungku memakainya. Nang pun hanya punya satu celana panjang dan satu buah peci hitam, yang lagi-lagi hanya digunakan pada acara sepesial.
Nang adalah orang yang suka mendongeng. Ia akan mendongeng apa saja untuk cucu-cucunya. Pernah pada satu ketika, pada satu malam di bulan mati, langit begitu cerah. Rumah kami gelap gulita akibat pemadaman listrik. Ayah dan ibu, juga nenek sibuk memasang lampu petromaks juga senthir. Tapi Nang malah mengajak cucu-cucunya ke luar rumah. Kami pun mengerubutinya seperti laron mengerubuti senthir yang dipasang ibu. Ia menunjuk satu bintang berwarna merah, rasanya, itu adalah bintang yang paling terang yang pernah kulihat. Mungkin semenjak saat itu, aku semakin lupa menengadah ke langit untuk melihat bintang, atau mungkin juga karena tak ada lagi bintang di langit-langit kota.
“Joko Belek,” begitu kata kakek.
Dan ia menunjuk serta menggambar ulang konstelasi bintang yang ditinggali si Joko Belek. Rasi Kelopo Doyong, kakek menyebutnya. Syahdan, pada satu ketika, ada seorang pemuda bernama Joko, ku rasa pada jaman dahulu semua anak lelaki bernama Joko, kependekan dari jejoko atau jejaka. Si pemuda Joko konon mendapat perintah untuk menjaga sebuah pohon kelapa keramat. Yah, pada jaman dahulu kala, masih banyak pohon-pohon yang bertuah dan bertulah. Mungkin saja ini salah satunya. Pada satu siang nan terik, Joko merasa sangat haus. Ia tak tahan lagi akan godaan nyiur melambai yang memanggil namanya untuk menikmati kelapa muda. Ia pun melanggar perintah untuk menjaga si pohon. Joko memanjat pohon itu. Tapi, itu bukan pohon kelapa sembarangan. Maka si kelapa dalam bahasa yang tidak diketahui manusia memerintahkan semut merah raksasa untuk menggigit mata si Joko. Maka jadialah ia si Joko Belek, Joko yang matanya selalu belek’an dan merah.  Dan, hei, rasi bintang itu bener-benar seperti pohon kelapa yang miring nyaris ambruk gara-gara dipanjat Joko. Belakangan, ku ketahui, rasi itu adalah Scorpio dengan bintang merah Antares –si Joko Belek- tepat di jantungnya.
Satu ketika, Nang bercerita tentang hal lain. Kali ini tentang tumbuh-tumbuhan. Nang adalah seorang petani, juga penggembala. Ia mengurus sepetak sawah di dekat sungai. Sawah yang bagus karena hampir setiap tahun dialiri air, sehingga Nang bisa panen dua kali setahun. Begitulah Nang membiayai hidupnya juga nenek. Dari sawah itu Nang bisa menyekolahkan ibu hingga SMA, Nang juga berhasil membeli dua ekor sapi. Yang satu bernama Kliwon dan satu lagi bernama Legi. Saat itu, Nang baru saja pulang menggembalakan sapi-sapinya. Nang muncul di pintu tanpa suara. Nang bertelanjang dada, makanya ia tak butuh baju banyak. Kemudian Nang memanggil kami.
Nang membagikan buah ciplukan kepada kami. Semuanya sama rata. Lalu Nang bercerita tentang ciplukan. Kami suka buah kecil ini. Warnanya kuning jika sudah matang. Dan buahnya tersembunyi di dalam ruangan yang diselimuti selaput semacam daun yang tipis. Daun itu akan menjadi jaring-jaring cokelat jika ciplukan sudah matang. Rasanya manis. Lalu Nang bercerita, kabarnya dahulu kala ada sepasang kakek nenek yang tak punya anak. Kakek nenek sangat baik pada anak-anak. Berkat kemurahan hati para dewa, mereka punya anak, yang lahir dari buah ciplukan. Mungkin kisah ini tidak seterkenal kisah Tumbhelina.
Banyak orang menggunjingkan Nang. Kata orang-orang, kelak jika Nang mati tidak akan ada orang yang datang menyolatkannya. Karena Nang tidak pernah solat. Orang-orang pun berkata, Nang akan susah mati karena ia sering berpuasa pada hari-hari tertentu. Orang-orang pun menyangka, ketika Nang mati, jasadnya tidak akan diterima bumi karena ia sering terlihat berbicara sendiri –orang bilang Nang berkomunikasi dengan jin dan genderuwo.
Delapan tahun lalu Nang meninggal. Meurutku, cara mati Nang adalah cara yang paling baik. Ia meninggal pada hari Jumat sekitar pukul tiga dini hari. Malamnya, ia masih bercerita dengan ayah dan ibu, juga kedua adikku. Tidak ada yang aneh dalam diri Nang. Ia masih sangat sehat dan bugar. Satu-satunya keanehan adalah Nang mandi begitu lama. Ketika ia meninggal, tak ada orang yang tahu. Ia meninggal dengan tenang, tanpa rasa sakit kurasa. Aku melihat ia berseri. Tak dinyana, banyak orang datang ke pemakaman Nang, banyak orang pula yang datang menyolatkannya. Beberapa diantaranya tidak kami kenal, namun mereka mengatakan mengenal Nang dengan baik.
Saat di pemakaman, ada satu hal yang kuingat dari Nang, ia tak pernah menjalankan solat, seperti yang dilakukan nenek. Bahkan ketika hari lebaran tiba. Nang memilih untuk memandikan Kliwon dan Legi di pagi buta kemudian menyapu jalanan di depan masjid. Ketika ku tanya mengapa, ia menjawab, “ibadah itu tidak hanya solat, berbuat baik juga ibadah.”[]


Tidak ada komentar:

Posting Komentar