Dia adalah satu-satunya kakek yang kami –saya dan dua
orang adik saya- punya. Muridan namanya. Kami dan cucu-cucunya yang lain
memanggilnya Nang. Konon, Nang adalah panggilan untuk anak laki-laki. Tapi kami
tidak peduli. Kami suka memanggilnya begitu dan toh ia tidak keberatan. Nang
adalah ayah dari ibuku. Sementara ayah dari ayahku sudah lama meninggal sejak
ayahku masih kecil. Maka, Nang menjadi satu-satunya kakek bagi kami.
Dalam keseharian, Nang adalah orang yang sangat
sederhana. Aku menganggapnya begitu, karena seingatku ia bahkan tidak punya
baju lebih dari tiga buah. Satu baju batik lengan panjang dengan motif lawas
dan aroma kapur barus, ia menggunakannya hanya pada saat-saat tertentu, lebaran
misalnya, atau jika ada hajatan atau layatan. Satu kaos yang telah tipis
dimakan usia, tampaknya dulu berwana biru muda tapi kini berganti rupa menjadi
kekuningan dengan lubang di sana-sini. Ini adalah baju kebangsaan Nang. Dan
satu lagi adalah kaos berwarna hitam yang terlihat jauh lebih baik, setidaknya
warnanya belum pudar dan belum berlubang.
Nang tidak suka jika ayah atau ibu membelikannya baju. Ia
akan bilang, “aku seh nduwe klambi kok, bajuku
masih ada, lebih dari cukup, berikan saja pada orang yang lebih butuh.”
Kemudian ia akan menyebut nama, si ini lah atau si anu lah. Ayah juga ibu
akhirnya memberikan baju itu kepada orang yang disebut Nang. Setelah puluhan
kali kejadian itu berulang, ayah dan ibu akhirnya berhenti membelikan Nang baju
baru.
Tapi Nang memiliki banyak celana komprang. Ia senang jika ibu membelikan yang baru. Celana komprang
kesukaan kakek adalah yang berwarna hitam. Rasanya semua kakek di kampungku
memakainya. Nang pun hanya punya satu celana panjang dan satu buah peci hitam,
yang lagi-lagi hanya digunakan pada acara sepesial.
Nang adalah orang yang suka mendongeng. Ia akan
mendongeng apa saja untuk cucu-cucunya. Pernah pada satu ketika, pada satu
malam di bulan mati, langit begitu cerah. Rumah kami gelap gulita akibat
pemadaman listrik. Ayah dan ibu, juga nenek sibuk memasang lampu petromaks juga
senthir. Tapi Nang malah mengajak
cucu-cucunya ke luar rumah. Kami pun mengerubutinya seperti laron mengerubuti senthir yang dipasang ibu. Ia menunjuk
satu bintang berwarna merah, rasanya, itu adalah bintang yang paling terang
yang pernah kulihat. Mungkin semenjak saat itu, aku semakin lupa menengadah ke
langit untuk melihat bintang, atau mungkin juga karena tak ada lagi bintang di
langit-langit kota.
“Joko Belek,” begitu kata kakek.
Dan ia menunjuk serta menggambar ulang konstelasi
bintang yang ditinggali si Joko Belek. Rasi Kelopo Doyong, kakek menyebutnya. Syahdan,
pada satu ketika, ada seorang pemuda bernama Joko, ku rasa pada jaman dahulu
semua anak lelaki bernama Joko, kependekan dari jejoko atau jejaka. Si pemuda Joko konon mendapat perintah untuk menjaga
sebuah pohon kelapa keramat. Yah, pada jaman dahulu kala, masih banyak
pohon-pohon yang bertuah dan bertulah. Mungkin saja ini salah satunya. Pada
satu siang nan terik, Joko merasa sangat haus. Ia tak tahan lagi akan godaan
nyiur melambai yang memanggil namanya untuk menikmati kelapa muda. Ia pun
melanggar perintah untuk menjaga si pohon. Joko memanjat pohon itu. Tapi, itu
bukan pohon kelapa sembarangan. Maka si kelapa dalam bahasa yang tidak
diketahui manusia memerintahkan semut merah raksasa untuk menggigit mata si
Joko. Maka jadialah ia si Joko Belek, Joko yang matanya selalu belek’an dan merah. Dan, hei, rasi bintang itu bener-benar seperti
pohon kelapa yang miring nyaris ambruk gara-gara dipanjat Joko. Belakangan, ku
ketahui, rasi itu adalah Scorpio dengan bintang merah Antares –si Joko Belek- tepat
di jantungnya.
Satu ketika, Nang bercerita tentang hal lain. Kali ini
tentang tumbuh-tumbuhan. Nang adalah seorang petani, juga penggembala. Ia
mengurus sepetak sawah di dekat sungai. Sawah yang bagus karena hampir setiap
tahun dialiri air, sehingga Nang bisa panen dua kali setahun. Begitulah Nang
membiayai hidupnya juga nenek. Dari sawah itu Nang bisa menyekolahkan ibu
hingga SMA, Nang juga berhasil membeli dua ekor sapi. Yang satu bernama Kliwon
dan satu lagi bernama Legi. Saat itu, Nang baru saja pulang menggembalakan
sapi-sapinya. Nang muncul di pintu tanpa suara. Nang bertelanjang dada, makanya
ia tak butuh baju banyak. Kemudian Nang memanggil kami.
Nang membagikan buah ciplukan kepada kami. Semuanya
sama rata. Lalu Nang bercerita tentang ciplukan. Kami suka buah kecil ini.
Warnanya kuning jika sudah matang. Dan buahnya tersembunyi di dalam ruangan
yang diselimuti selaput semacam daun yang tipis. Daun itu akan menjadi
jaring-jaring cokelat jika ciplukan sudah matang. Rasanya manis. Lalu Nang
bercerita, kabarnya dahulu kala ada sepasang kakek nenek yang tak punya anak. Kakek
nenek sangat baik pada anak-anak. Berkat kemurahan hati para dewa, mereka punya
anak, yang lahir dari buah ciplukan. Mungkin kisah ini tidak seterkenal kisah
Tumbhelina.
Banyak orang menggunjingkan Nang. Kata orang-orang,
kelak jika Nang mati tidak akan ada orang yang datang menyolatkannya. Karena
Nang tidak pernah solat. Orang-orang pun berkata, Nang akan susah mati karena
ia sering berpuasa pada hari-hari tertentu. Orang-orang pun menyangka, ketika
Nang mati, jasadnya tidak akan diterima bumi karena ia sering terlihat
berbicara sendiri –orang bilang Nang berkomunikasi dengan jin dan genderuwo.
Delapan tahun lalu Nang meninggal. Meurutku, cara mati
Nang adalah cara yang paling baik. Ia meninggal pada hari Jumat sekitar pukul tiga dini hari. Malamnya, ia masih bercerita dengan ayah dan ibu,
juga kedua adikku. Tidak ada yang aneh dalam diri Nang. Ia masih sangat sehat
dan bugar. Satu-satunya keanehan adalah Nang mandi begitu lama. Ketika ia
meninggal, tak ada orang yang tahu. Ia meninggal dengan tenang, tanpa rasa
sakit kurasa. Aku melihat ia berseri. Tak dinyana, banyak orang datang ke
pemakaman Nang, banyak orang pula yang datang menyolatkannya. Beberapa
diantaranya tidak kami kenal, namun mereka mengatakan mengenal Nang dengan
baik.
Saat di pemakaman, ada satu hal yang kuingat dari Nang,
ia tak pernah menjalankan solat, seperti yang dilakukan nenek. Bahkan ketika
hari lebaran tiba. Nang memilih untuk memandikan Kliwon dan Legi di pagi buta
kemudian menyapu jalanan di depan masjid. Ketika ku tanya mengapa, ia menjawab, “ibadah
itu tidak hanya solat, berbuat baik juga ibadah.”[]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar