Kau bilang, panas di kotamu begitu menyengat. Padahal mendung menggayut
di langit kotaku. Aku merentang jarak antara kotamu dan kotaku. Tak jauh
rupanya. Tak lebih dari satu jengkal. Tapi mengapa cuaca begitu berbeda.
Akan ku kirim hujan untukmu, sayangku.
Begitu janjiku padamu.
Aku segera pulang dari kantor meski mendung membayang. Ah, tepat sekali.
Sebentar lagi hujan. Dan aku bisa memenuhi janjiku padamu. Saat aku tiba di
rumah, hujan belum lagi turun. Aku melesat ke dapur. Aku harus menemukan
sesuatu yang mampu menampung hujan. Juga mendung yang berat. Serta kilat yang
berkeriap.
Pencarianku tak mudah rupanya. Tapi akhirnya aku menemukan wadah yang
tepat. Sebuah kaleng bekas biskuit. Kucuci bersih kaleng itu, juga kugosok agar
mengkilap. Tadinya aku hendak memasukkan hujan mendung petir ke dalam toples
kaca. Hanya saja aku takut hujan dan segala yang kukirimkan menguap dalam
perjalanan. Sewaktu aku masih SD, aku belajar ilmu alam. Kabarnya, jika hujan
terkena panas maka ia akan menguap menjadi embun. Dan kabarnya pula, jika
mendung terkena panas maka hujan tak datang. Maka kuputuskan untuk menyimpan
hujan mendung petir dalam kaleng. Kaleng akan melindungi dari sinar matahari.
Kuharap suhunya juga akan tetap. Sehingga isinya tetap utuh.
Lihatlah, sayangku, bagaimana
hujan membasahi pertiwi. Pejamkan matamu dan resapi gemericik hujan yang
jatuh. Ia, sayangku, tak pernah mengeluh. Meski bulir hujan yang jatuh dari
langit akan buncah saat menyentuh tanah. Ia pun tak pernah lelah. Kau tahu,
sayangku, betapa panjang dan lama jalan yang ia lalui. Ia bisa bermula dari
mana saja. Got, kali, laut, segara, sumur, bahkan dari mata. Kau pernah dengar
hujan berasal dari air mata. Tentu saja, kau tak pernah mendengarnya. Aku tahu,
kau terlalu sibuk mengurus dunia. Apa jadinya dunia tanpamu. Tak apa, sayangku,
aku pasti akan menceritakannya padamu.
Dari tempatnya berada, ia diambil untuk menjalani suatu proses semacam
penyucian diri. Air dari segala tempat berkumpul. Ia, mereka, melayang-layang
di antara langit dan bumi. Belum saatnya mereka ke langit. Hingga pada suatu
ketika, yang tak seorang tahu, atas izin semesta mereka menuju langit. Semesta
raya membawa mereka pada jalan suci yang harus ditempuh. Panas dan dingin
menjadi biasa. Akhirnya mereka berkumpul menjadi kristal bening di langit. Harusnya
kristal nan suci itu tetap di langit. Tapi kehidupan selalu meminta korban.
Maka semesta mengorbankan kristal yang jumlahnya tak sedikit. Blarr. Kilat
menyambar, guntur menggelegar, angin berhembus, dan langit berkerut. Pertanda upacara
pengorbanan akan segera dimulai. Kristal bening itupun jatuh ke bumi, kemudian
hancur dan mengalir hingga jauh. Dan kita, kau dan aku menyebutnya hujan.
Ah, ya aku lupa, hujan tak singgah di kotamu.
Jika nanti hujan dalam kaleng yang kirimkan padamu, ku harap kau
membukanya dengan perlahan hati-hati. Bukalah kalang penutupnya di alam
terbuka. Agar kau, tak hanya kau yang menikmati hujan. Jika hujan kemudian
turun di kotamu. Pejamkan dan resapi tiap tetesnya. Ada namamu dalam setiap
tetes hujan yang jatuh. Juga doaku untukmu.
Sayangku, eL, akan kuajari kau melakukan tarian hujan. Kau pasti suka.
Ya, ya, tentu saja jika kau punya waktu. Tapi, percayalah ini tak akan lama.
Dan kau pasti akan segera menyukainya. Seperti kau menyukai laut dan menyelami
kedalamannya.
Tarian ini dilakukan saat hujan turun. Karena itu, ia dinamai tarian
hujan. Tapi berjanjilah sayangku, kau tak akan pernah menarikannya pada hujan
pertama setelah musim kemarau yang berkepanjangan. Hujan pertama setelah
kemarau tak baik bagi mahkluk hidup, begitu orang tuaku berkata.
Jika hujan turun, berlarilah ke
luar rumah. Tak apa, tak perlu malu. Ada peri-peri kecil yang akan menari
bersamamu. Tak akan ada yang mengataimu gila. Sesungguhnya orang-orang akan
kagum padamu, karena kau punya keberanian menari dalam hujan.
Pejamkan matamu sayangku. Tengadahkan kepalamu ke langit. Apakah kau
merasakan lembut sang hujan. Biarkan ia membelaimu, sayangku. Biarkan ia
membisikkan rinduku di telingamu. Rentangkan kedua tanganmu. Dan bulir hujan
akan menyentuh rambutmu yang kelam, wajahmu nan molek, juga hidungmu yang
bangir hingga seluruh tubuhmu menjadi kuyup olehnya. Jika kau menggigil,
artinya kau berhasil melakukan tarian hujan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar