Rabu, 05 Desember 2012

Saya, Hatta, dan Nicholas Saputra

Pemandangan Gunung Api Banda dari penginapan yang saya tempati.


Banda. Saya hanya pernah mendengar namanya pada pelajaran sejarah bertahun silam, saat saya masih duduk di bangku sekolah dasar. Muhammad Hatta, si Bapak Koperasi Indonesia beserta rekannya Sutan Syahrir dibuang ke Banda. Itulah sepenggal kisah tentang Banda yang terekam. Kemudian ingatan itu muncul lagi ketika Des Alwi, sejarawan Banda meninggal. Hanya dua peristiwa itu yang saya ketahui tentang Banda. Oh ya, saya juga pernah mendengar Nicholas Saputra, pemain film ‘Ada Apa Dengan Cinta’ juga mengagumi keindahan Banda.
Siapa nyana, akhirnya saya menjejakkan sepasang kaki ini di Tanah Banda. Berangkat dari Port of Ambon atau kini Pelabuhan Yos Sudarso, Ambon, dengan menumpang Kapal Ciremai. 
Suara stoom kapal membelah subuh di Kota Ambon. Jam lima pagi hari, kapal beranjak meninggalkan kota. Delapan jam lamanya saya mengarungi luasnya Laut Banda. Lama perjalanan menjadi tak berarti, saat saya membayangkan sosok Banda. Lagipula laut dan langit biru yang seolah bersatu di cakrawala pun selalu menemani. Sungguh, rasa bosan pun enggan hinggap.

Senin, 03 Desember 2012

Petualangan Pombo

Pombo, pesona Maluku Manise

Manise, manise, su telalu manise…
Sama santan dan gula, su telalu manise….
(Manisnya, manisnya, sangat manisnya…
Sama seperti santan dan gula, sangat manis….)

Itulah sebait lagu daerah Maluku yang berjudul Kole-Kole. Mungkin hanya penggalan lagu itu yang mampu menerjemahkan keindahan Maluku. Mungkin pula nama Pulau Pombo tak seterkenal nama Kepulauan Maluku, tapi keelokan Pulau Pombo dapat mewakili manisnya Maluku.

Kamis, 29 November 2012

Anggrek Merah Darah Babi





 Si Kecil Ungu ini adalah anggrek pertama saya. Nama ilmiahnya, Dendrobium anousmum. Ada pula yang menyebutnya Anggrek Mata Sapi. Agak aneh memang, karena menurut saya, anggrek ini sama sekali tidak terlihat seperti mata sapi. Dalam kepala saya, ketika disebutkan mata sapi yang terbesit adalah sepiring telur ceplok dengan bagian kuning tepat sempurna di tengahnya.

Senin, 19 November 2012

Hujan dalam Kaleng




Kau bilang, panas di kotamu begitu menyengat. Padahal mendung menggayut di langit kotaku. Aku merentang jarak antara kotamu dan kotaku. Tak jauh rupanya. Tak lebih dari satu jengkal. Tapi mengapa cuaca begitu berbeda.
Akan ku kirim hujan untukmu, sayangku.
Begitu janjiku padamu.
Aku segera pulang dari kantor meski mendung membayang. Ah, tepat sekali. Sebentar lagi hujan. Dan aku bisa memenuhi janjiku padamu. Saat aku tiba di rumah, hujan belum lagi turun. Aku melesat ke dapur. Aku harus menemukan sesuatu yang mampu menampung hujan. Juga mendung yang berat. Serta kilat yang berkeriap.

Kereta Senja



Ting-Tong-Ting-Tong. Bel telah berdentang. Para penjaga hilir mudik. Orang-orang berdiri. Kulihat arloji di tanganku. Bukan ini, gunamku. Bergeming aku tak beranjak. Kukatupkan kedua tanganku. Sedikit berkeringat. Ya, aku memang sedikit gugup.
Ia datang. Dari barat. Berderit-derit. Ada yang bahagia, ada pula yang tidak. Mereka yang bahagia adalah yang telah menunggu kedatangannya. Dan yang tidak, memang tidak menginginkan ia datang. Aku? Aku bukan keduanya. Tentu saja aku bahagia. Aku bisa tau bagaimana perasaan mereka yang bahagia. Tapi, Ia datang bukan untukku. Jadi, aku punya alasan untuk tak bahagia.

Rabu, 09 Mei 2012

Purnama Untuk eL


Kepada eL sayangku,

eL, akan ku kirimkan sebuah purnama merah jambu untukmu. Tak hanya sepotong, tapi utuh tigaratus enampuluh derajat. Tak tercela meski secuil. Akan ku ambil purnama yang paling sempurna untukmu. Purnama pada malam-malam nan pekat. Tanggal lima belas tepat.
Akan ku bungkus dalam amplop putih bersih. Kau akan mampu melihat pendarnya meski terbungkus. Akan ku rekatkan pula sebuah perangko. Perangko yang tertempel miring. Sehingga Pak Pos yang mengantar akan tahu, bahwa itu adalah sepucuk surat cinta.
eL, sayangku. Setelah bermalam-malam ku lalui dengan menghitung hari. Akhirnya kujumpai malam ini. Betapa sempurnanya purnama malam ini. Ia begitu bundar. Dan berpendar. Warnanya begitu sempurna. Kuning, emas, ah, ia begitu merah jambu, eL. Ia terlihat memukau di tengah selimut kegelapan malam. Malam menjadi begitu benderang. Bahkan tanpa lampu. Dan sayangku, jika kau ada di sini, kau akan melihat anak-anak bermain dan bernyanyi di luar. Tanpa takut akan gelap. Dengarlah mereka bernyanyi.
“Yo, prokonco dolanan ning njobo,
Padang bulan, bulan ne koyo rino”