Ting-Tong-Ting-Tong. Bel telah berdentang. Para penjaga hilir mudik.
Orang-orang berdiri. Kulihat arloji di tanganku. Bukan ini, gunamku. Bergeming
aku tak beranjak. Kukatupkan kedua tanganku. Sedikit berkeringat. Ya, aku
memang sedikit gugup.
Ia datang. Dari barat. Berderit-derit. Ada yang bahagia, ada pula yang
tidak. Mereka yang bahagia adalah yang telah menunggu kedatangannya. Dan yang
tidak, memang tidak menginginkan ia datang. Aku? Aku bukan keduanya. Tentu saja
aku bahagia. Aku bisa tau bagaimana perasaan mereka yang bahagia. Tapi, Ia
datang bukan untukku. Jadi, aku punya alasan untuk tak bahagia.
Ia adalah kereta senja. Kereta yang akan kutumpangi. Aku sedang
menunggunya. Menunggu ia menjemputku. Menunggu kereta senja sama seperti
menunggu kekasih. Ada debar, harap, juga cemas. Setiap kali bel di stasiun ini
ber-ting-tong-ting-tong, selalu saja ada debar aneh dalam hati. Seolah menunggu
kekasih datang menjemput dan menekan bel rumah. Juga ada harap, agar ia, sang
kekasih datang tepat waktu. Dan seringkali yang cemas pun merayapi, akankah ia
tak datang senja ini.
Menunggu kereta senja sama seperti menunggumu, cintaku. Kadang tepat
waktu, kadang pula tidak. Seorang penyair pernah berkata padaku, “cinta tak
pernah tepat waktu, sayang.” Mungkin penyair itu benar. Kau, kereta senjaku,
cintaku, belum juga tiba. Adakah sesuatu yang menahanmu?
Kali ini, aku sungguh-sungguh cemas. Ia masih belum datang. Kusandarkan
seluruh penat pada bangku stasiun. Bangku-bangku ini telah banyak berubah.
Mereka bukan lagi bangku biru atau oranye yang seolah hendak patah. Mereka
bukan lagi bangku yang pernah kududuki, atau mungkin saja pernah, namun aku tak
mengingatnya.
Bukan hanya aku yang cemas. Banyak orang yang cemas sepertiku.
Stasiun ini masih stasiun yang dulu. Stasiun tempatku menanti dengan
penuh harap dan cemas akan kedatanganmu. Sama seperti sekarang. Ya, baiklah,
demi menghormati mereka yang berjibaku di peusahaan kereta api, aku tak
memungkiri, telah banyak perubahan di stasiun ini. Tapi mereka lupa, mereka tak
bisa mengubah kenangan. Stasiun. Ada perjumpaan, perpisahan, juga penantian.
Seorang taman pernah bercerita padaku, besar kecil stasiun dapat
terlihat dari centang perenang rel kereta di stasiun. Saat itu pula aku berkata
pada temanku itu, sepasang rel tak akan pernah bertemu pada satu titik, mereka
akan selalu berpasangan tanpa berpotongan, begitulah seharusnya cinta. Tak
mungkin, sanggahnya. Temanku itu melanjutkan sanggahannya, tetap akan ada rel
yang berpotongan, kau tak percaya, lihatlah. Mereka yang berpotongan tak akan
saling berpasangan, mereka ditakdirkan bertemu tapi tak ditakdirkan bersama,
jawabku. Stasiun ini, stasiun besar, simpulku kemudian.
Ting-tong-ting-tong. Bel kembali berdentang. Para penjaga hilir mudik.
Orang-orang berdiri. Kulihat arloji di tanganku. Bukan ini, gunamku. Bergeming
aku tak beranjak. Kukatupkan kedua tanganku. Sedikit berkeringat. Ya, aku
memang sedikit gugup.
Jujur saja, aku semakin cemas. Kereta senja ini harus tiba di Serayu
saat senja. Aku cemas, ia tak akan. Diam-diam aku berdoa. Semoga ia segera
tiba.
Pada sebuah kisah menyebutkan, pada suatu masa, kereta senja yang akan
kutumpangi ini selalu berhenti pada satu titik kala senja. Serayu. Ya, Ia, si
kereta senja akan entah berhenti ataukah terhenti pada jembatan yang membentang
di atas Kali Serayu. Saat matahari begitu bundar dan oranye, serta pantulannya
yang mengubah air menjadi hijau-oranye-kuning. Senja yang begitu sempurna. Dan
di seberang jembatan rel, kau akan melihat sepasang kekasih. Setelah sepasang
kekasih itu melambaikan tangan, maka Ia, kereta senja akan kembali berjalan.
Jeg-ge-jes-jeg-ge-jes-jeg-ge-jes.
Ia akan segera tiba. Kereta senja dari timur. Begitu ujar si petugas
melalui corong pengeras suara. Bel pun mulai berdentangan. Aku segera beranjak.
Peron nomor dua tujuanku. Ia akan melintas. Menanti kereta senja seperti
menanti kekasih, ada debar, harap, dan cemas.
Kursi di sebelahku kosong. Di hadapku, pasangan suami istri paruh baya.
Mereka akan turun di stasiun yang sama denganku. Kereta terus melaju. Semakin
cepat. Melintasi terowongan. Suaranya bergemuruh. Berganti-ganti menjadi satu
melodi tak beraturan.
Dari kaca jendela, aku menatap ke luar. Berganti-ganti dengan sangat
cepat. Bagai slide film hidup yang diputar ulang. Tumpang tindih tak berpola.
Sebelum satu kenangan diputar habis, telah ada kenangan yang lain. Membuat mata
berkeriap-keriap. Kupandangi pantulan wajahku di jendela kaca. Harusnya ada
pantulan wajahmu juga. Pantulan wajahku kemudian memudar hingga kembali pada
film putar ulang tadi. Ah, sungguh terkadang sepotong kenangan dapat menjelma
menjadi sebuah siksaan nan pedih.
Sudah waktunya. Aku berdiri. Kulongokkan wajahke ke jendela yang
terbuka. Angin sore menyapaku. Menyampaikan kabar akan kerinduan yang tertahan.
Di depan, Serayu membentang, senja menantang. []
Tidak ada komentar:
Posting Komentar