Jumat, 18 November 2011

Kalah atau Menang

Saya memang tidak nonton pertandingan memperebutkan Juara Grup A di Sea Games semalam. Tepatnya saya hanya menonton setengah permainan saja. Kecewa dengan Garuda Muda, tentu bukan alasan saya tak melanjutkan menonton. Semalam sakit perut akut mendera. Lebih baik tidur agar esok pagi bisa bekerja dengan baik.

Tak sampai keesokan harinya, saya telah mendapat banyak sekali analisis kekalahan Indonesia. Oh, rupa-rupanya di pertandingan semalam, Garuda Muda harus menerima kekalahan. Bagi saya, tak apa, bukankah mereka masih muda. Meski menjadi muda bukan alasan untuk kalah. Entah bagi delapan puluh lima ribu penonton di Gelora Bung Karno? Adakah mereka kecewa?


Ah, saya tak peduli dengan analisis pesimistis. Meski harus diakui permainan Garuda Muda semalam tak baik.

Saya tidak ingin menambah beban Tuan bertopi RD beserta anak didiknya dengan hujatan dan pujian. Kali ini saya sedang ingin berandai-anda menjadi pemain timnas U-23 nan piawai dan belia. Saya ingin membayangkan, bagaimana rasanya menjadi seorang anggota timnas yang akan bertanding melawan musuh bebuyutan bahkan sejak Indonesia belum merdeka. Bayangkan, seandainya saya yang berada di sana. Berdiri bersama sepuluh pemuda terbaik. Berjajar, mengenakan seragam merah darah dengan garuda yang bertengger apik di dada kiri. Bangganya saya. Ada delapan puluh lima ribu  pasang mata mengawasi. Ada dua ratus tujuh puluh juta mulut melantunkan doa. Ya, semuanya untuk kemenangan bangsa ini. Adakah saya bersama sepuluh pemuda terbaik akan gentar melawan?

Entah bagaimana rasanya saat saya, sepuluh pemuda terbaik, pemuda di bangku cadangan, pelatih, beserta seluruh penonton berdiri dan menyanyikan Indonesia Raya dengan lantang. Indonesia Raya selalu bisa membangkitkan rasa-rasa bernama nasionalisme bangsa ini. Langit Jakarta pun bergetar, saya rasa. Setelah semangat yang meluap-luap hingga nyaris meledakkan dada, saya yakin, ini tak akan mudah. Saya tak mampu membayangkan, betapa besar beban yang kami panggul. Kamu harus menang, begitu Ibu saya akan berkata. Menang, kata pelatih. Kalian tak boleh kalah, media menulis. Ini pertandingan harga diri, komentator menyiarkan. Masyarakat butuh kemenangan, politikus bersuara. Indonesia bisa, lantun Sherina dan Ello. Berilah kemenangan, doa masyarakat. Adakah kami terbebani?

Jika saya menjadi satu dari mereka. Sungguh saya pasti akan ketakutan. Saya takut kalah. Saya takut membuat kecewa. Saya takut dihujat saat saya kalah. Saya pasti ingin menangis dan menghilang dengan ajaib. Oh, sungguh ada benarnya jika ada yang berkata, mental juara yang dibutuhkan tim ini. Hanya mereka yang bermental juara yang mampu terus berlari dan melanjutkan pertandingan.

Dan, akhirnya, segala puji bagi Tuhan semesta alam. Syukurlah, Timnas U-23 tidak memiliki saya sebagai pemainnya.[]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar