Sebab
dalam diri setiap orang dewasa masih tersimpan jiwa kanak-kanaknya, dan dalam
diri setiap anak bersemayam jiwa yang kelak akan menjadi dewasa.
Kalimat itu tertulis
di halamannya yang paling depan. Setelah kau membuka sampul buku itu tentunya.
Aku membelinya, jujur saja, karena aku tertarik pada sampulnya yang berwarna
entah biru, entah ungu. Buku itu bergambar centang perenang sulur-sulur tanaman
rambat yang mungkin memang tidak ada dalam dunia kita –kau tahu, kan, ada
banyak dunia, di sisi dunia yang kita tempati ini-. Mungkin juga sulur tanaman
itu hanya hidup dalam imaji si penulis. Dalam gambar sulur tanaman rambat yang
bisa saja beracun itu tergantung berbagai benda, ada kunci-kunci yang jumlahnya
sangat banyak, juga beberapa pedang, bintang, dan juga hati. Lalu berdiri pada
salah satu julainya yang penuh duri, seorang lelaki bungkuk dengan pedang
sebagai tongkatnya. Ia tampak tidak baik. Jika kau memiliki buku ini,
perhatikanlah sorot matanya. Ia benar-benar terlihat licik, bukan? Di sulur lainnya, di sisi bawah buku, kau akan melihat seorang anak
lelaki yang tengah membaca, sambil tiduran. Lelaki bungkuk dan anak lelaki itu
tentu saja hanya terlihat sebagai siluet putih. Kontras dengan latar yang entah
biru, entah ungu, juga julai tanaman rambat penuh duri yang berwarna coklat
nyaris emas.
![]() |
| Sampul 'The Book of The Lost Thing' |
Di tengah sampul
buku, kau bisa membacanya, ‘The Book of Lost Thing’. Di bagian bawah gambar
anak lelaki, tertulis terjemahan judulnya, ‘Kitab Tentang Yang Telah Hilang’.
Membaca judulnya saja sudah cukup membuatku penasaran. Aku membayangkan buku
ini berisi kitab ajaib yang bisa menunjukkan semua jawaban atas pertanyaan,
kitab ini juga mungkin akan berisi peta-peta menuju dunia liyan selain dunia kita, mungkin juga peta harta karun yang
dicari-cari bajak laut. Aku suka cerita bajak laut. Sungguh pintar Tuan John
Connolly ini memilih judul.
Sosok-sosok dalam
sampul buku kelak aku kenali sebagai si Lelaki Bungkuk, yang dalam dongeng buku
itu tak bernama, ia hanya dipanggil begitu saja, si Lelaki Bungkuk. Kemudian anak
lelaki yang membaca sambil tiduran –atau tiduran sambil membaca- itu kukenal
sebagai David. Cerita dalam kitab ini mengisahkan tentang David, anak lelaki
yang senang sekali membaca, tak hanya sambil tiduran tapi anak ini
sungguh-sungguh senang membaca. Melalui David, Connolly menghidupkan
dongeng-dongeng semasa kecil.
Dongeng kitab
berkelir entah ungu, entah biru itu bermula pada kematian ibu David. Anak
lelaki itu kemudian begitu kehilangan yang mendalam. Ia menenggelamkan diri
dalam kesukaannya membaca semua kisah dalam buku. Dan bukankah, di saat-saat
menjelang ajal, ibunya selalu meminta David membaca satu kisah setiap hari.
David amat menyukai kisah-kisah dongeng ksatria, kastil, naga, srigala, dan
banyak diantara kisahnya yang berujung ‘bahagia selama-lamanya’ bagi si baik,
dan ‘tidak terlihat lagi’ bagi si jahat.
Tak lama setelah
kepergian ibunya yang untuk selamanya, datang seorang perempuan, Rose, yang
kemudian menikah dengan ayah David. Rose tak seperti lakon ibu tiri, yang dalam
berabagai hikayat dituturkan begitu jahat hingga mampu merebus anak tirinya
dalam kuali raksasa. Rose berusaha mendapat tempat dalam kehidupan David. Tapi
anak lelaki itu tetaplah anak-anak, ia merasa takut kehilangan ayahnya sama
seperti ia kehilangan ibunya, terlebih dengan kedatangan Rose. Si anak lelaki
rupa-rupanya memendam segala marah yang ada. Apalagi kemudian ia harus berbagi
ayah dengan adik tirinya bernama Georgie, dan lalu ia beserta ayahnya harus
pindah ke rumah Rose yang besar tua, meninggalkan rumah masa kecilnya. Ku
pikir, aku mengerti perasaan David.
Di rumahnya yang baru
yang pada kenyataannya adalaha rumah ibu tirinya itu, si anak lelaki semakin
menenggelamkan diri dalam hikayat-hikayat tebal. Bahkan seringkali ia mampu
mendengar buku-buku berisi hikayat dongeng itu berceloteh. Ia membaca cerita
putri tidur dan berharap diam-diam ibunya sedang berada dalam kutuk tidur
panjang. Ia juga membaca tentang penyihir Oz yang penuh tipuan. Dan ia juga
membaca Snow White atau yang lebih dikenal dengan putri salju beserta tujuh kircaci
pengikutnya. Pun ia membaca kisah lainnya.
Oleh satu hal yang
disebabkan si Lelaki Bngkuk, David, si anak lelaki yang suka membaca sambil
tiduran, terlempar dan terjebak ke dunia liyan
yang letaknya bersisian dengan kebun cekung belakang rumah. Mirip dengan kisah
gadis Alice yang terempar ke dunia ajaib melalui lubang kelinci. Hanya saja,
David terlempar ke ‘dunia ajaib’ nya melalui kebun cekung yang terlihat dari
jendela kamarnya. Di dunia yang sama sekali berbeda dengan dunianya, David
menemukan kisahnya. Dalam kisahnya, ia bertemu banyak hal, termasuk semua mimpi
buruk yang terlahir dari ketakutannya yang paling dalam. Dan yang lebih buruk,
semua mimpi buruknya adalah nyata.
Ia bertemu dengan
kaum Loup, kaum setengah manusia setengah srigala, dengan Leroi sebagai
pimpinannya. Betapa sungguh makhluk itu, meski berpakaian dan berjalan dengan
dua kaki belakangnya, tetap saja binatang. Konon, Loup lahir dari rahim si
Tudung Merah yang jatuh cinta pada srigala. Hei, bukankah di dongeng klasik
yang kita kenal, si Tudung Merah dan neneknya dimakan srigala. Tapi ini kisah
David, si anak lelaki yang suka membaca sambil tiduran bukan kisah dalam dongeng
klasik. Persamaan keduanya adalah mereka sama-sama diselamatkan oleh Tukang
Kayu.
Menurut Tukang Kayu,
hanya ada satu cara untuk memulangkan David ke dunianya. David harus bertemu
Raja. Karena hanya Raja yang memiliki Kitab Tentang yang Telah Hilang, yang
konon penuh pengetahuan dan juga sihir.
Maka si anak lelaki
melakukan perjalanan yang tak singkat untuk bertemu Raja. Dalam perjalanannya,
David beristirahat dekat rumah kue yang mirip dengan rumah kue jahe, coklat,
dan permen dalam cerita laki perempuan, kakak beradik, Hans dan Gretel.
Perjalanan kemudian membawa David bertemu dengan harpy, makhluk berbentuk perempuan tua dengan sayap lebar yang
berterbangan. Mungkin harpy mirip
dengan wewe gombel atau kalong wewe yang kerap menyari mangsa
anak-anak kecil yang belum juga pulang ke rumah ketika terang berganti gelap.
Alur cerita menggiring si anak lelaki menyebrangi sungai lewat jembatan kayu
yang ditunggui troll. Seperi kau
tahu, troll, makhluk nakal yang kerap
menyesatkan pengelana. Makhluk itu pun hendak mencelakai David dengan
mengajukan pertanyaan semacam teka-teki.
David bertemu makhluk
pendek kecil lain dari dunia dongeng yang pernah ia baca. Kurcaci. Dan dapat
dipastikan jumlahnya tujuh orang. Kurcaci yang ia temui adalah makhluk baik
namun mudah marah. Kurcaci yang anak lelaki itu temui juga rupa-rupanya sudah
teracuni pemikiran Marx tentang kelas-kelas. David yang lelah menginap semalam
di rumah mereka. Dan kau pasti sudah menduga, tentu saja, kurcaci itu tinggal
dengan putri salju. Dan sungguh, putri salju yang ini jauh dari sterotipe putri
salju yang kau kenal. Perjalanan berlanjut. Kisah David sampai pada kisah centaur, makhluk perpaduan antara kuda
dan manusia. Lalu sampailah ia pada hikayat yang mengingatkannya pada mendiang
ibunya. Ya, hikayat tentang putri yang terkena kutuk tidur selama berabad-abad.
David juga harus mengalahkan cacing tanah raksasa pemakan daging, dan bukan
naga, untuk melanjutkan perjalanan.
David bertemu Raja
pada akhirnya. Dan tahulah ia, Raja telah membuat kesepakatan yang keji dengan
si Lelaki Bungkuk. Si anak lelaki David, yang telah mengatasi ketakutan dalam
dirinya akhirnya kembali ke dunianya. Dan seperti yang diucapkan si Lelaki
Bungkuk padanya, “Mereka yang kausayangi –kekasih, anak-anak- akan jatuh
tersungkur di pinggir jalan, dan cintamu
takkan cukup untuk menyelamatkan mereka,” terbukti benar adanya. Satu per satu
orang di dekat David mati.
Kitab dongeng atau
novel Connolly barangkali, benar-benar telah memikatku. Membacanya seolah-olah
kembali ke beberapa tahun silam, saat aku masih membaca dongeng klasik. Saat
aku seusia David, kadang dengan rasa-rasa yang tak bisa dibicarakan,
dongeng-dongeng menjelma kepercayaan. Toh, kita –kau dan aku- juga pernah
sampai pada masa kita percaya bahwa naga dan penyihir itu benar-benar ada. Dan
seringkali aku juga terkadang memiliki ketakutan yang sulit dilogiskan pada
naga dan penyihir. Kadang, ketakutan itu muncul menjelma mimpi buruk dalam
tidur. Atau juga menjadi mimpi buruk saat aku tidak benar-benar tidur. Saat
beranjak dewasa, mimpi buruk yang seperti itu perlahan sirna.
Connolly seolah-olah
mengatakan padaku, dongeng bukan lagi tak relevan bagi orang dewasa. Sebab yang
terjadi di kehidupan bukankah berawal dari dongeng. Tinggal bagaimana
orang-orang dewasa melafalkan dongeng itu sendiri. Karena terkadang dongeng mewartakan
makna kehidupan melalui caranya sendiri.[]

Tidak ada komentar:
Posting Komentar