Rabu, 16 November 2011

Saat Mimpi Burukmu Adalah Nyata



Sebab dalam diri setiap orang dewasa masih tersimpan jiwa kanak-kanaknya, dan dalam diri setiap anak bersemayam jiwa yang kelak akan menjadi dewasa.

Kalimat itu tertulis di halamannya yang paling depan. Setelah kau membuka sampul buku itu tentunya. Aku membelinya, jujur saja, karena aku tertarik pada sampulnya yang berwarna entah biru, entah ungu. Buku itu bergambar centang perenang sulur-sulur tanaman rambat yang mungkin memang tidak ada dalam dunia kita –kau tahu, kan, ada banyak dunia, di sisi dunia yang kita tempati ini-. Mungkin juga sulur tanaman itu hanya hidup dalam imaji si penulis. Dalam gambar sulur tanaman rambat yang bisa saja beracun itu tergantung berbagai benda, ada kunci-kunci yang jumlahnya sangat banyak, juga beberapa pedang, bintang, dan juga hati. Lalu berdiri pada salah satu julainya yang penuh duri, seorang lelaki bungkuk dengan pedang sebagai tongkatnya. Ia tampak tidak baik. Jika kau memiliki buku ini, perhatikanlah sorot matanya. Ia benar-benar terlihat licik, bukan? Di sulur lainnya, di sisi bawah buku, kau akan melihat seorang anak lelaki yang tengah membaca, sambil tiduran. Lelaki bungkuk dan anak lelaki itu tentu saja hanya terlihat sebagai siluet putih. Kontras dengan latar yang entah biru, entah ungu, juga julai tanaman rambat penuh duri yang berwarna coklat nyaris emas.
Sampul 'The Book of The Lost Thing'


Di tengah sampul buku, kau bisa membacanya, ‘The Book of Lost Thing’. Di bagian bawah gambar anak lelaki, tertulis terjemahan judulnya, ‘Kitab Tentang Yang Telah Hilang’. Membaca judulnya saja sudah cukup membuatku penasaran. Aku membayangkan buku ini berisi kitab ajaib yang bisa menunjukkan semua jawaban atas pertanyaan, kitab ini juga mungkin akan berisi peta-peta menuju dunia liyan selain dunia kita, mungkin juga peta harta karun yang dicari-cari bajak laut. Aku suka cerita bajak laut. Sungguh pintar Tuan John Connolly ini memilih judul.

Sosok-sosok dalam sampul buku kelak aku kenali sebagai si Lelaki Bungkuk, yang dalam dongeng buku itu tak bernama, ia hanya dipanggil begitu saja, si Lelaki Bungkuk. Kemudian anak lelaki yang membaca sambil tiduran –atau tiduran sambil membaca- itu kukenal sebagai David. Cerita dalam kitab ini mengisahkan tentang David, anak lelaki yang senang sekali membaca, tak hanya sambil tiduran tapi anak ini sungguh-sungguh senang membaca. Melalui David, Connolly menghidupkan dongeng-dongeng semasa kecil.

Dongeng kitab berkelir entah ungu, entah biru itu bermula pada kematian ibu David. Anak lelaki itu kemudian begitu kehilangan yang mendalam. Ia menenggelamkan diri dalam kesukaannya membaca semua kisah dalam buku. Dan bukankah, di saat-saat menjelang ajal, ibunya selalu meminta David membaca satu kisah setiap hari. David amat menyukai kisah-kisah dongeng ksatria, kastil, naga, srigala, dan banyak diantara kisahnya yang berujung ‘bahagia selama-lamanya’ bagi si baik, dan ‘tidak terlihat lagi’ bagi si jahat.

Tak lama setelah kepergian ibunya yang untuk selamanya, datang seorang perempuan, Rose, yang kemudian menikah dengan ayah David. Rose tak seperti lakon ibu tiri, yang dalam berabagai hikayat dituturkan begitu jahat hingga mampu merebus anak tirinya dalam kuali raksasa. Rose berusaha mendapat tempat dalam kehidupan David. Tapi anak lelaki itu tetaplah anak-anak, ia merasa takut kehilangan ayahnya sama seperti ia kehilangan ibunya, terlebih dengan kedatangan Rose. Si anak lelaki rupa-rupanya memendam segala marah yang ada. Apalagi kemudian ia harus berbagi ayah dengan adik tirinya bernama Georgie, dan lalu ia beserta ayahnya harus pindah ke rumah Rose yang besar tua, meninggalkan rumah masa kecilnya. Ku pikir, aku mengerti perasaan David.

Di rumahnya yang baru yang pada kenyataannya adalaha rumah ibu tirinya itu, si anak lelaki semakin menenggelamkan diri dalam hikayat-hikayat tebal. Bahkan seringkali ia mampu mendengar buku-buku berisi hikayat dongeng itu berceloteh. Ia membaca cerita putri tidur dan berharap diam-diam ibunya sedang berada dalam kutuk tidur panjang. Ia juga membaca tentang penyihir Oz yang penuh tipuan. Dan ia juga membaca Snow White atau yang lebih dikenal dengan putri salju beserta tujuh kircaci pengikutnya. Pun ia membaca kisah lainnya.

Oleh satu hal yang disebabkan si Lelaki Bngkuk, David, si anak lelaki yang suka membaca sambil tiduran, terlempar dan terjebak ke dunia liyan yang letaknya bersisian dengan kebun cekung belakang rumah. Mirip dengan kisah gadis Alice yang terempar ke dunia ajaib melalui lubang kelinci. Hanya saja, David terlempar ke ‘dunia ajaib’ nya melalui kebun cekung yang terlihat dari jendela kamarnya. Di dunia yang sama sekali berbeda dengan dunianya, David menemukan kisahnya. Dalam kisahnya, ia bertemu banyak hal, termasuk semua mimpi buruk yang terlahir dari ketakutannya yang paling dalam. Dan yang lebih buruk, semua mimpi buruknya adalah nyata.

Ia bertemu dengan kaum Loup, kaum setengah manusia setengah srigala, dengan Leroi sebagai pimpinannya. Betapa sungguh makhluk itu, meski berpakaian dan berjalan dengan dua kaki belakangnya, tetap saja binatang. Konon, Loup lahir dari rahim si Tudung Merah yang jatuh cinta pada srigala. Hei, bukankah di dongeng klasik yang kita kenal, si Tudung Merah dan neneknya dimakan srigala. Tapi ini kisah David, si anak lelaki yang suka membaca sambil tiduran bukan kisah dalam dongeng klasik. Persamaan keduanya adalah mereka sama-sama diselamatkan oleh Tukang Kayu.

Menurut Tukang Kayu, hanya ada satu cara untuk memulangkan David ke dunianya. David harus bertemu Raja. Karena hanya Raja yang memiliki Kitab Tentang yang Telah Hilang, yang konon penuh pengetahuan dan juga sihir.

Maka si anak lelaki melakukan perjalanan yang tak singkat untuk bertemu Raja. Dalam perjalanannya, David beristirahat dekat rumah kue yang mirip dengan rumah kue jahe, coklat, dan permen dalam cerita laki perempuan, kakak beradik, Hans dan Gretel. Perjalanan kemudian membawa David bertemu dengan harpy, makhluk berbentuk perempuan tua dengan sayap lebar yang berterbangan. Mungkin harpy mirip dengan wewe gombel atau kalong wewe yang kerap menyari mangsa anak-anak kecil yang belum juga pulang ke rumah ketika terang berganti gelap. Alur cerita menggiring si anak lelaki menyebrangi sungai lewat jembatan kayu yang ditunggui troll. Seperi kau tahu, troll, makhluk nakal yang kerap menyesatkan pengelana. Makhluk itu pun hendak mencelakai David dengan mengajukan pertanyaan semacam teka-teki.

David bertemu makhluk pendek kecil lain dari dunia dongeng yang pernah ia baca. Kurcaci. Dan dapat dipastikan jumlahnya tujuh orang. Kurcaci yang ia temui adalah makhluk baik namun mudah marah. Kurcaci yang anak lelaki itu temui juga rupa-rupanya sudah teracuni pemikiran Marx tentang kelas-kelas. David yang lelah menginap semalam di rumah mereka. Dan kau pasti sudah menduga, tentu saja, kurcaci itu tinggal dengan putri salju. Dan sungguh, putri salju yang ini jauh dari sterotipe putri salju yang kau kenal. Perjalanan berlanjut. Kisah David sampai pada kisah centaur, makhluk perpaduan antara kuda dan manusia. Lalu sampailah ia pada hikayat yang mengingatkannya pada mendiang ibunya. Ya, hikayat tentang putri yang terkena kutuk tidur selama berabad-abad. David juga harus mengalahkan cacing tanah raksasa pemakan daging, dan bukan naga, untuk melanjutkan perjalanan.

David bertemu Raja pada akhirnya. Dan tahulah ia, Raja telah membuat kesepakatan yang keji dengan si Lelaki Bungkuk. Si anak lelaki David, yang telah mengatasi ketakutan dalam dirinya akhirnya kembali ke dunianya. Dan seperti yang diucapkan si Lelaki Bungkuk padanya, “Mereka yang kausayangi –kekasih, anak-anak- akan jatuh tersungkur di pinggir jalan, dan cintamu takkan cukup untuk menyelamatkan mereka,” terbukti benar adanya. Satu per satu orang di dekat David mati.

Kitab dongeng atau novel Connolly barangkali, benar-benar telah memikatku. Membacanya seolah-olah kembali ke beberapa tahun silam, saat aku masih membaca dongeng klasik. Saat aku seusia David, kadang dengan rasa-rasa yang tak bisa dibicarakan, dongeng-dongeng menjelma kepercayaan. Toh, kita –kau dan aku- juga pernah sampai pada masa kita percaya bahwa naga dan penyihir itu benar-benar ada. Dan seringkali aku juga terkadang memiliki ketakutan yang sulit dilogiskan pada naga dan penyihir. Kadang, ketakutan itu muncul menjelma mimpi buruk dalam tidur. Atau juga menjadi mimpi buruk saat aku tidak benar-benar tidur. Saat beranjak dewasa, mimpi buruk yang seperti itu perlahan sirna.

Connolly seolah-olah mengatakan padaku, dongeng bukan lagi tak relevan bagi orang dewasa. Sebab yang terjadi di kehidupan bukankah berawal dari dongeng. Tinggal bagaimana orang-orang dewasa melafalkan dongeng itu sendiri. Karena terkadang dongeng mewartakan makna kehidupan melalui caranya sendiri.[] 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar