Senin, 29 Juli 2013

Semalam, Aku Membunuh Sang Raja



Tersebutlah kisah sebuah negari yang dipimpin seorang raja yang tidak memiliki jantung hati. Kisah ini dimulai pada suatu malam di sebuah penjara nan kelam. Dimana keputusasaan menjadi eksekutor. Banyak dari mereka yang menyerah pada kelam. Kemudian mengakhiri hidup.
Penjara tersebut berisi puluhan bahkan ratusan cerdik cendikia juga para penyair dan seniman. Seluruh orang pandai pada negri itu pernah dikumpulkan pada satu waktu oleh sang raja yang berkuasa. Alasannya sederhana, sang raja tak ingin memiliki rakyat yang lebih pandai dari dirinya. Melalui tipu muslihat dan kesetiaan seorang jelata, mereka berkumpul di alun-alun. Tanpa mengetahui apapun, mereka dijebloskan dalam penjara putus asa. Sang raja bersabda, ‘Itulah hukuman bagi mereka yang pandai.’
Raja memerlukan rakyat yang bodoh dan setia. Itu saja.

Bertahun terlewati. Terdapatlah seorang pemuda yang mengisi hari-harinya di dengan bertanya. Bertanya pada apa yang ada. Pada si cerdik cendikia, pada penyair, juga pada seniman. Nyaris saja pemuda ini berhenti bertanya dan hendak menyerah sama seperti yang lainnya. Hingga ia menemukan sepasang mata yang begitu meneduhkan, begitu jenaka, juga begitu menenggelamkan. Sepasang mata itu milik seorang perempuan tak bernama.
Perempuan itu memang tak bernama. Tak ada seorangpun mengenal perempuan itu. Tidak ada pula yang pernah bertemu dengan sebelumnya. ‘Aku yang tak bernama,’ begitu jawab perempuan itu. Dan mereka, para penghuni penjara putus asa memanggilnya perempuan tak bernama.
Tak ada yang tahu bagaimana sang perempuan bisa ada dalam penjara. Tak ada yang menyadari sejak kapan ia ada. Tak ada yang tahu asal usulnya. Ah, ya, yang mereka tahu, perempuan tak bernama itu berasal dari laut.
Pada satu ketika, sang raja berkenan mengunjungi penjara itu. Untuk menyaksikan keputusasaan yang teramat dalam. Saat sang raja melintas, banyak dari mereka yang mengalihkan pandang, termasuk sang pemuda. Banyak pula yang memelas menyerah menukar akal demi kebebasan. Sungguh tak ada kebebasan yang cuma-cuma.
Perempuan tak bernama bersimpuh saat sang raja melintas. Berlutut tanpa merendahkan pandang. Ia menatap lekat sang raja. Mereka berbicara tanpa kata. Lalu sang raja pergi.
Dan pada satu pagi, putri kecil sang raja berlari ke penjara putus asa. Putri kecil mencari perempuan bermata telaga, perempuan tak bernama. ‘Ceritakan padaku tentang laut,’ ujarnya pada perempuan tak bernama. ‘Aku bahkan tak pernah ke laut, akan kuberikan apa yang kau mau.’
Kemarilah. Akan kuceritakan padamu tentang laut. Datanglah, dan pejamkan matamu. Apakah kau merasakan laut? Putri kecil menggeleng. Dengarlah, dengar gemerisik pasir yang berhembus, tertiup angin. Ssst.. Kau harus diam. Suaranya begitu lirih. Begitu halus. Sehalus pasirnya.
Rasakanlah dengan jiwamu. Pasir putih, abu-abu, kuning, merah jambu, bahkan hitam terpapar begitu luas. Begitu landai. Berkejaran, berlarian, berlomba memeluk biru sang laut. Biru yang muda, biru yang hijau, biru yang terang, dan biru yang pekat, sepekat darah. Laut adalah darah, darah yang mengaliri setiap nadi semesta.
Hiruplah aromanya. Aroma garam yang menggelitik hidung. Aroma kehidupan. Dapatkah kau mengenalinya. Ia datang dari aroma paling purba dari tiap tubuh yang saling menyatu. Dan kemudian hilang terbawa angin.
Bukalah matamu. Apakah kau merasakan laut?
Apa yang kau inginkan?
Laut terindah negeri ini.
Aku tak bisa memberikannya padamu. Tapi akan kuberikan kau separuh kebebasanmu.
Perempuan tak bernama tak lagi ada dalam penjara keputusasaan. Ia, kini, menjadi budak kerajaan. Sesekali ia mendongeng tentang laut pada keluarga istana, dan ya, termasuk sang raja. Dan sejak saat itu, si pemuda patah hati.
Dan, seperti dongeng klasik di manapun, akhirnya sang raja jatuh cinta pada kedalaman laut di mata perempuan tak bernama itu. Layaknya cerita dongeng, sang raja pun mengangkat si perempuan sebagai selir yang melayani keperluan raja sehari-hari.
Hingga pada satu hari yang cerah. Matahari bersinar begitu sengit. Hingga udara menjadi sumuk. Tak ada hari yang lebih sempurna untuk menikmati pantai dan laut selain hari ini. Si perempuan tak bernama pun memberanikan diri menghadap sang raja.
‘Duhai Raja yang merajai seluruh negri, sudah lama, aku mengabdi padamu. Bolehkah aku meminta sesuatu darimu?’ Perempuan tak bernama bertanya pada Sang Raja.
‘Katakan. Kau boleh meminta apa saja dariku. Selain setengah kebebasanmu.’
‘Laut terindah negri ini. Meski hanya satu kali dalam hidupku’
Sang Raja pun berpikir. Ia terdiam begitu lama. Ah, laut. Mengapa perempuan ini meminta laut. Tak bisakah ia meminta emas ataupun berlian. Atau bahkan istana pun akan ku berikan. Tapi, mengapa laut. Adakah perempuan ini tahu apa guna laut. Tak ada yang tahu, selain aku dan para pengawal istana, jika laut di negri ini tak lagi indah. Laut negri ini telah menjadi tempat pembuangan, bagi mereka yang mati dalam penjara putus asa. Ah, mana mungkin ia tahu.
‘Baiklah. Aku adalah raja. Dan kata-kataku adalah sabda. Maka kau boleh meminta laut terindah negri ini.’
‘Terima kasih wahai Raja.’
Raja dan Perempuan Tak Bernama memacu kuda dengan cepat. Di belakang, para pengawal tertinggal sangat jauh. Raja, diam-diam mencecap dan mengingat setiap sudut wajah Perempuan Tak Bernama. Ia ingin mengenang Perempuan Tak Bernama sebagai perempuan yang meminta laut, perempuan yang diam-diam ia cintai.
‘Kita harus tiba sebelum senja.’
‘Aku ingin kau melihat senja, wahai Rajaku.’
‘Senja yang bundar jingga merona.’
‘Senja laut terindah.’
Dan tibalah Raja dan Perempuan Tak Bernama tepat kala senja. Matahari beringsut menuju cakrawala. Senja yang hanya sebentar itu memang begitu syahdu.
Kemarilah sayang. Berbaringlah di pangkuanku. Akan kuceritakan kisah laut terindah yang pernah ada. Akan ku dongengkan pula kisah senja yang begitu jingga.
Sang Raja pun berbaring di pangkuan Perempuan Tak Bernama. Dengan lembut dibelai rambut sang raja yang keperakan.
Kemarilah. Akan kuceritakan padamu tentang laut. Pejamkan matamu, sayang. Apakah kau merasakan laut? Dengarlah, dengar gemerisik pasir yang berhembus, tertiup angin. Ssst.. Kau harus diam. Suaranya begitu lirih. Begitu halus. Sehalus pasirnya.
Rasakanlah dengan jiwamu. Pasir putih, abu-abu, kuning, merah jambu, bahkan hitam terpapar begitu luas. Begitu landai. Berkejaran, berlarian, berlomba memeluk biru sang laut. Biru yang muda, biru yang hijau, biru yang terang, dan biru yang pekat, sepekat darah. Laut adalah darah, darah yang mengaliri setiap nadi semesta.
Hiruplah aromanya. Aroma garam yang menggelitik hidung. Aroma kehidupan. Dapatkah kau mengenalinya. Ia datang dari aroma paling purba dari tiap tubuh yang saling menyatu. Dan kemudian hilang terbawa angin.
Dan senja yang begitu sunyi. Yang begitu jingga. Senja yang membuat biru laut menjadi merah jingga kuning. Kemudian menjadi gelap dan pekat. Segelap dan sepekat darah. Darah yang mengalir dari jutaan jiwa yang putus asa, dan kemudian bermuara ke laut.
Tanpa disadari. Perempuan Tak Bernama telah menghunus pisau ke dada sang raja. Pisau yang berkilat-kilat ditimpa cahaya senja. Pisau yang kini berkilat-kilat berlumur darah.
Sayang, mungkin sudah menjadi takdirku untuk membunuhmu. Sungguh, aku tak ingin. Tapi aku harus. Tahukah kau, duhai kekasihku. Di sini pun ku terluka. Membunuh orang yang ku cintai dengan tanganku sendiri. Sungguh, menyakitkan rasanya. Jika saja, aku mampu bertukar tempat denganmu. Akan ku lakukan.
Perempuan Tak Bernama menangis. Air matanya yang jatuh segera kering disesap pasir pantai. Pasir putih, abu-abu, kuning, merah jambu, bahkan hitam. Ia bahkan mulai terisak dalam diam. Ia ingin berteriak, namun suaranya tercekat dikerongkongan. Seperti ada yang mencekiknya.
‘Aaaaarrrghhhhhh….’ Teriaknya. Suara yang parau akhirnya keluar dari mulutnya.
‘Ah. Aku bermimpi buruk. Kupikir, aku telah benar-benar membunuh Raja.’ Ujar seorang perempuan. Dengan malas perempuan itu bangun dari tempat tidur. Kemudian memandang spanduk kampanye di luar jendela. ‘Ah. Ternyata, Raja belum mati. Dan belum ganti.’[]




Tidak ada komentar:

Posting Komentar