Kamis, 29 November 2012
Anggrek Merah Darah Babi
Si Kecil Ungu ini adalah anggrek pertama saya. Nama ilmiahnya, Dendrobium anousmum. Ada pula yang menyebutnya Anggrek Mata Sapi. Agak aneh memang, karena menurut saya, anggrek ini sama sekali tidak terlihat seperti mata sapi. Dalam kepala saya, ketika disebutkan mata sapi yang terbesit adalah sepiring telur ceplok dengan bagian kuning tepat sempurna di tengahnya.
Ah ya, saya bukan penggemar anggrek. Apalagi jenis orang yang rela membeli anggrek seharga 70 juta rupiah. Saya hanya menyukai bebungaan. Meski, ya, sebenarnya tidak juga. Anggrek ungu ini memiliki sejarah yang cukup panjang hingga sampai di rumah. Awalnya, adalah seorang kolega yang tinggal di pinggiran kota. Kolega ini sudah begitu tua. Mama Ragi, begitu kami memanggilnya. Pada suatu ketika, saya berkunjung ke rumahnya untuk suatu urusan. Urusan yang begitu penting rasanya, sehingga memaksa saya datang jauh-jauh ke rumah Mama Ragi. Begitu membosankan bukan bicara dengan seorang oma yang memiliki rentang usia puluhan tahun.
Singkat cerita, kami ngobrol. Tidak banyak. Tentu yang formaf-formal saja, setidaknya cukuplah untuk basa-basi. Agar terlihat akrab. (Common up, we live in the different age and culture. Dan yah, saya tidak begitu paham apa yang ia bicarakan.) Sampailah saya pada waktu berpamitan. Ia mengantar saya hingga depan pintu. Ketika hendak keluar dari rumahnya, saya melihat anggrek ini. Pada saat itu, anggreknya sedang tidak berbunga. Sebagai basa-basi penutup, saya bertanya padanya.
"Mama, ini bunga apa?"
(Dalam hati, saya menyesali pertanyaan bodoh saya. Dan berharap, ia tidak menjawab dengan 'Udah tau bunga anggrek, masih nanya.')
Dan terima kasih Tuhan, ia tidak menjawab begitu.
"Itu bunga anggrek. Dia pung warna itu merah darah babi," Jawabnya.
(Dalam hati saya masih bertanya, 'heh, merah darah babi tu kayak apa ya?')
"Oooh...." Lanjut saya. Tentu dengan berpura-pura paham warna merah darah babi.
"Mau? Ambil sudah!" Tanpa banyak basa-basi, ia langsung mencabut anggrek yang bertengger manis di Pohon Mangga, memasukkan ke dalam plastik, dan memberikannya pada saya.
"Terima kasih, Mama Ragi." ('aduuuh, piye leh ngopeni ki?' Tentu saja hanya dalam hati. Toh, jikalau saya ungkapkan, ia pun tak akan mengerti.)
Saya hanya membawanya pulang ke rumah. Membiarkannya berminggu-minggu dalam tas plastik, hingga daunnya menguning. Ya, didorong oleh rasa bersalah, akhirnya saya menanam anggrek tersebut dengan media tanam pakis. Demi menebus rasa bersalah, saya menyiram anggrek merah darah babi tersebut setiap pagi, setiap hari. Sumpah, melelahkan juga. Saya meletakkan anggrek ini di loteng terbuka atap rumah saya. Jadi setiap pagi, saya memiliki tugas tambahan naik turun untuk menyiram. Malasnya saya.
Hampir tiga minggu, saya merawat anggrek merah darah babi tersebut. Saya belum juga tahu nama anggrek itu. Kemudian saya harus pergi meninggalkan rumah untuk tugas luar kota yang hampir dua minggu lamanya. Entah bagaimana nasib anggrek itu. Saya hanya berharap, hujan turun sesekali.
Sepulang tugas, hal pertama yang saya lakukan ketika sampai di rumah adalah melihat anggrek ini. Mudah-mudahan 'gak mati. Lho, kok, saya jadi care gini ya? Saya jadi kagum pada diri saya sendiri. Dan, wow, lima tangkai (apa ya satuan untuk bunga?) bunga kecil berwarna ungu telah menyambut kedatangan saya. Bangganya saya. Ternyata, saya pun mampu merawat anggrek. Terlepas dari itu semua, rasa penasaran saya terhadap warna 'merah darah babi' pun terjawab sudah.
Saya bertanya pada seorang teman, Mr. Orchid namanya. Teman saya ini, manusia paling canggih dalam dunia anggrek. Rasa-rasanya ia tahu semua jenis anggrek yang ada di Indonesia Raya, bahkan di jagat raya. Dia semacam memiliki kecintaan yang tidak dapat dituliskan dengan kata-kata. Oh ya, mungkin dia jenis manusia yang akan membeli anggrek seharga 70 juta rupiah. Saya bertanya tentang anggrek ini. Yang saya dapatkan adalah kuliah 2 SKS dari Mr. Orchid. Begini kira-kira isi kuliahnya,
"Bunga ini, Ay, namanya Dendrobium anousmum. Kurang tau ya, nama lokalnya apa. Soalnya, 'ga biasa sih nyebut pake nama lokal. Anosmum 'tu artinya harum. Coba deh cium, pasti wangi. Persebaran anggrek ini dari India, Semenanjung Malay, Indonesia, Filipina, sampai Papua New Guinea. Di Indonesia 'tu ditemukan di Kalimantan Timur, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Maluku, dan Papua. Ada tiga warna, ungu, putih, dan ungu-putih. Yang paling langka tu yang warna putih. Kayak punyaku di rumah. Kalo punyaku di rumah 'tu ya kalo berbunga banyaaak. 'Gak cuman lima gitu. Tapi itu sih tergantung perawatan dan tempat tumbuh."
Tentu saja itu belum seluruhnya.
And, damn, he is right. Anggrek ini menguarkan aroma yang harum.[]
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar