Kamis, 29 November 2012
Anggrek Merah Darah Babi
Si Kecil Ungu ini adalah anggrek pertama saya. Nama ilmiahnya, Dendrobium anousmum. Ada pula yang menyebutnya Anggrek Mata Sapi. Agak aneh memang, karena menurut saya, anggrek ini sama sekali tidak terlihat seperti mata sapi. Dalam kepala saya, ketika disebutkan mata sapi yang terbesit adalah sepiring telur ceplok dengan bagian kuning tepat sempurna di tengahnya.
Senin, 19 November 2012
Hujan dalam Kaleng
Kau bilang, panas di kotamu begitu menyengat. Padahal mendung menggayut
di langit kotaku. Aku merentang jarak antara kotamu dan kotaku. Tak jauh
rupanya. Tak lebih dari satu jengkal. Tapi mengapa cuaca begitu berbeda.
Akan ku kirim hujan untukmu, sayangku.
Begitu janjiku padamu.
Aku segera pulang dari kantor meski mendung membayang. Ah, tepat sekali.
Sebentar lagi hujan. Dan aku bisa memenuhi janjiku padamu. Saat aku tiba di
rumah, hujan belum lagi turun. Aku melesat ke dapur. Aku harus menemukan
sesuatu yang mampu menampung hujan. Juga mendung yang berat. Serta kilat yang
berkeriap.
Kereta Senja
Ting-Tong-Ting-Tong. Bel telah berdentang. Para penjaga hilir mudik.
Orang-orang berdiri. Kulihat arloji di tanganku. Bukan ini, gunamku. Bergeming
aku tak beranjak. Kukatupkan kedua tanganku. Sedikit berkeringat. Ya, aku
memang sedikit gugup.
Ia datang. Dari barat. Berderit-derit. Ada yang bahagia, ada pula yang
tidak. Mereka yang bahagia adalah yang telah menunggu kedatangannya. Dan yang
tidak, memang tidak menginginkan ia datang. Aku? Aku bukan keduanya. Tentu saja
aku bahagia. Aku bisa tau bagaimana perasaan mereka yang bahagia. Tapi, Ia
datang bukan untukku. Jadi, aku punya alasan untuk tak bahagia.
Langganan:
Postingan (Atom)
