![]() |
| Pemandangan Gunung Api Banda dari penginapan yang saya tempati. |
Banda.
Saya hanya pernah mendengar namanya
pada pelajaran sejarah bertahun silam, saat saya masih duduk di bangku sekolah
dasar. Muhammad Hatta, si Bapak Koperasi Indonesia beserta rekannya Sutan
Syahrir dibuang ke Banda. Itulah sepenggal kisah tentang Banda yang terekam.
Kemudian ingatan itu muncul lagi ketika Des Alwi, sejarawan Banda meninggal.
Hanya dua peristiwa itu yang saya ketahui tentang Banda. Oh ya, saya juga
pernah mendengar Nicholas Saputra, pemain film ‘Ada Apa Dengan Cinta’ juga
mengagumi keindahan Banda.
Siapa nyana, akhirnya saya menjejakkan sepasang kaki
ini di Tanah Banda. Berangkat dari Port of Ambon atau kini Pelabuhan Yos
Sudarso, Ambon, dengan menumpang Kapal Ciremai.
Suara stoom kapal membelah
subuh di Kota Ambon. Jam lima pagi hari, kapal beranjak meninggalkan kota.
Delapan jam lamanya saya mengarungi luasnya Laut Banda. Lama perjalanan menjadi
tak berarti, saat saya membayangkan sosok Banda. Lagipula laut dan langit biru
yang seolah bersatu di cakrawala pun selalu menemani. Sungguh, rasa bosan pun
enggan hinggap.
Kapal putih (begitu masyarakat Maluku menyebut kapal
PELNI) yang saya tumpangi akhirnya merapat dengan apik di Pelabuhan Banda Naira.
Saat itu waktu menunjuk pukul dua siang. Mungkin yang ada di benak saya akan
jauh berbeda dengan Hatta dan Syahrir kala pertama mereka tiba. Saya datang
untuk menjejak keindahan. Mereka datang untuk dibuang. Banda Naira yang
biasanya lengang dan sunyi mendadak ramai. Begitulah memang jika kapal putih
berlabuh. Kota ini, jika bisa disebut kota, begitu kecil. Meski kecil, sejarah
mencatat kota kecil ini begitu Indonesia. “Di sini, bermula apa yang kemudian
menjadikan Indonesia,” ujar Rizal Mallarangeng dalam tulisan Goenawan Muhammad.[1]
Menakjubkan. Hanya itu yang mampu saya katakan. Betapa
sempurna pulau ini. Di Pelabuhan Banda Naira, saya berdiri, menakjubi pulau.
Kapal Putih Ciremai, perlahan menjauhi pulau, kembali berlayar ke laut lepas
begitu sempurna berpadu padan dengan latar Gunung Api Banda yang menjulang
angkuh. Birunya langit dan laut pun seakan tak mau kalah mewarnai. Semarak
pasar kaget sama sekali tak menggangu keindahan ini, riuh pasar menjadi semacam
pelengkap yang tak bisa digantikan. Itulah kali pertama saya datang di Banda.
Saya menginap di sebuah penginapan kecil. Letaknya di
samping penginapan milik Des Alwi. Penginapan kecil ini menghadap ke arah laut
dan Pulau Gunung Api Banda nan cantik. Tak henti-henti saya mengagumi Gunung
Api Banda. Bagaimana mungkin sebuah pulau hanya berisi gunung yang masih aktif.
Saya memutuskan, akan mendakinya esok pagi. Gunung Api Banda rupa-rupanya
adalah Taman Wisata Alam (TWA). Untuk menjamahnya tentu dibutuhkan Surat Izin
Simaksi (SIMAKSI) dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Maluku. Tak
sulit mendapatkannya. Datang saja ke Kantor Resort BKSDA Maluku di pusat Banda
Naira.
Pulau Gunung Api Banda ialah satu dari sekian pulau
yang terangkum dalam Kepulauan Banda. Pulau lainnya yaitu Pulau Banda Besar
(dimana Banda Naira terletak), Lonthor, Ai, Rum, Hatta, dan Syahrir. Tahun 1988
lalu, Gunung Api Banda meletus. Letusannya begitu besar. Sebagian dari
lelehannya menghancurkan kampung di kaki gunung, sebagian lagi masuk ke laut
dan merusak terumbu karang. Tak hanya sekali gunung tersebut meletus. Sejarah
mencatat letusan besar pernah terjadi pada 1614, 1720, 1810, dan 1891. Saya
masih bisa membaca sisa-sisa letusannya. Ada lelehan lava yang telah mengering
di sisi gunung.
Memiliki ketinggian 656 meter di atas permukaan laut,
membuatnya terlihat menjulang di tengah Laut Banda, laut dengan palung terdalam
di Indonesia. Konon Palung Banda memiliki kedalaman 6.500 meter.
Siapapun dapat mendaki Gunung Api Banda, termasuk
saya. Bisa dibilang ini pendakian pertama saya. Titik awal pendakian dimulai
pada 0 meter. Hanya ada satu jalur pendakian di gunung ini. Jangan khawatir
tersesat. BKSDA Maluku telah memasang sejumlah papan petunjuk. Sebagian papan
itu menjelaskan blok-blok di TWA Gunung Api Banda. Ada blok perlindungan, ada
pula blok pemanfaatan. Papan yang lain menginterpretasikan Pulau Gunung Api
Banda dan pulau-pulau sekitarnya. Sebagian papan yang lain mengingatkan
pengunjung untuk menjaga kelestarian, juga tetap waspada. Longsor dan gas
berbahaya adalah dua hal yang patut diwaspadai.
Sungguh meski memiliki kelerengan lebih dari lima
puluh derajat, Gunung Api Banda patut dicoba. Segala lelah terbayar sudah
ketika sampai di puncak. Keluh kesah yang terucap pun sublim dalam puji dan
syukur. Betapa mata akan dimanjakan oleh gugusan Kepulauan Banda. Nyaris
seluruh pulau dapat terlihat dari puncak. Hijau warnanya, berpasangan dengan
biru laut dan biru langit di batas cakrawala. Tampak pula pemukiman di
kejauhan. Banda Naira. Lonthor.
Gunung Api Banda di dalam keheningannya menyimpan
bejuta pesona. Saat memulai pendakian, saya melihat begitu banyak pohon yang
menjulang tinggi. Semak pun tak ingin kalah rimbun. Terkadang di beberapa
tempat, anggrek tanah berwarna ungu cerah menyembul. Setiap ketinggian di
Gunung Api Banda menunjukkan ekosistem yang berbeda. Mulanya didominasi
kumpulan pohon-pohon besar. Semakin ke atas tumbuhan pun semakin kerdil.
Sebelum mencapai puncak Gunung Api Banda, tetumbuhan yang ada hanyalah
paku-pakuan. Bentuknya beraneka ragam, juga ukurannya. Sesampainya di puncak,
tak ada lagi tumbuhan yang menaungi. Hanya ada gundukan bebatuan dan
pemandangan yang menawan.
Bagian kesukaan saya dalam pendakian Gunung Api Banda
adalah saat berada di puncak. Kemudian seraya menatap gugusan Kepulauan Banda,
saya menyesapi peristiwa di waktu lampau. Saya membayangkan aroma hangat pala
menarik para penjelajah untuk menguasainya. Belanda, Portugis, dan Inggris
berlomba-lomba mendapatkannya. Rasa-rasanya peristiwa itu begitu dekat.
Peristiwa lampau itu menorehkan jejaknya pada kepulauan ini. Puncak Gunung Api
Banda menjadi saksi abadi sejarah Indonesia bermula.
Perjalanan menjelajah Kepulauan Banda tak lengkap jika
tanpa dibumbui petualangan sejarah. Begitu banyak saksi sejarah yang mampu
bercerita lewat caranya masing-masing. Masih di Pulau Banda Besar, saya
menjejak setiap sudut Banda Naira. Tak jauh berjalan dari penginapan, saya
terpana pada sosok Gereja Tua. Di gerbangnya yang terlihat rapuh, simbol Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC)
terlihat. Ketika memasuki pelatarannya, saya melihat di lantainya banyak
terukir lambang VOC. Betapa sungguh VOC ingin dikenang oleh bangsa ini. Gereja
Tua ini salah satu contoh tepat bangunan
victorian kala itu. Ciri
khasnya memiliki pilar penyangga begitu besar di terasnya. Rupa-rupanya Gereja
Tua ini adalah kuburan bagi Belanda yang terbunuh di Naira, ada yang
menyebutkan mereka adalah serdadu, ada pula yang menyatakan mereka adalah
padri. Dulu kala, gereja ini bernama Hollandische Kerk yang dibangun pada tahun
1600-an. Lalu gereja ini hancur akibat gempa dan dibangun ulang menjadi gereja
yang sekarang. Ah, gereja ini mengingatkan saya pada sebait lagu lama dari
Pandjaitan Bersaudara, “Hanya satu yang
tak terlupakan, kala senja di gereja tua, waktu itu hujan rintik-rintik, kita
berteduh di bawah atapnya.”
![]() |
| Simbol VOC seperti ini, masih banyak ditemui di Banda |
Beralih dari gereja, saya berkunjung ke Benteng
Belgica. Benteng inilah yang tampak seperti Pentagon dari Puncak Gunung Api
Banda. Dinding tembok ini sungguh akan menuai decak kagum. Belanda saat itu
tengah bersungguh-sungguh melindungi sumber rempah-rempahnya. Lima sudut
benteng menghadap ke lima arah yang berbeda, dengan menara pengintai di tiap
sudutnya. Dari menara pengintai ini, sungguh Belanda memang ingin menghancurkan
siapa saja yang hendak merebut Banda. Selain Benteng Belgica, ada pula Benteng
Nassau di Banda Naira yang kini tinggal reruntuhan saja. Benteng Nassau
meninggalkan jejak berupa lorong-lorong panjang nan kelam. Lorong-lorong gelap
ini, konon, dulu bermuara di Laut Banda. Beberapa bagiannya terendam air pasang
surut. Konon, fungsinya untuk memudahkan mobilisasi serdadu untuk melindungi
Banda.
| Lorong-lorong Fort Nassau |
Persinggahan lain yang patut dikunjungi adalah Parigi
Rante. Semacam sumur besar dengan monumen dinding sebagai latarnya. Mirip
dengan Lubang Buaya. Di Parigi Rante sejumlah Orang Kaya (sebutan bangsawan
Banda) dibunuh. Pelakunya, Jan Pieterzen Coen(Gubernur VOC saat itu). Tak asing
bukan. Ia begitu terkenal di buku sejarah. Ia menuduh para Orang Kaya
bersekongkol untuk membunuhnya. Para Orang Kaya dibunuh dengan bengis.
Kekejamannya tak dapat dituliskan. Sederhananya, Coen dapat menjadi pengganti
kata sifat keji. Peristiwa Parigi Rante ini dituangkan dalam kanvas yang
tersimpan di museum. Merinding, itu yang saya rasakan saat melihatnya.
Perjalanan mengenang sejarah tak berhenti. Masih ada
rumah pengasingan milik Bung Hatta, Syahrir, Dr. Cipto Mangunkusumo, dan Iwa
Kusumantri. Mengunjungi rumah mereka seolah melawan teori relativitas enstein.
Betapa ruang dan waktu dapat dilipat-lipat. Berada di rumah mereka seperti
diajak menjelajah ruang dan waktu yang berbeda dengan sekarang. Meski dengan
penuh keterbatasan, Saya rasa Belanda menaruh semacam rasa hormat pada mereka.
Mereka dijauhkan, tapi tidak dengan pemikiran mereka. Di pengasingan, Hatta
mengajar masyarakat Banda. Rupa-rupanya hasrat mencerdaskan bangsa melakat
betul dalam diri tokoh-tokoh bangsa ini.
Perjalanan ke Banda mengingatkan Saya akan trilogi
semboyan VOC, Gold, Glory, dan Gospel. Ya, mereka mendapatkannya di
Banda.[]


nice post.. tapi maaf ya sist.. sedikit ralat : 'Pulau Banda Besar' terpisah dengan 'Pulau Naira'.
BalasHapuspusat 'kota' ada di 'pulau Naira' :)
okay..thanks ralatnya...
BalasHapus